WNA Pakistan Dideportasi

Share this :

Ponorogo, Koran Memo – Dinilai melanggar aturan keimigrasian, yaitu izin tinggal yang telah melebihi batas waktu yang telah diberikan, Muhammad Imran (21) warga negara asing (WNA) asal Pakistan, ditahan dan dideportasi oleh Kantor Imigrasi lll Ponorogo, Senin (28/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Muhammad Imran, WNA asal Pakistan yang akan dideportasi ke negara asalnya. (pendik/memo)
Muhammad Imran, WNA asal Pakistan yang akan dideportasi ke negara asalnya. (pendik/memo)

Kepala Kantor Imigrasi lll Ponorogo Najarudin mengatakan, pihaknya sudah lama membuntuti warga negara asing yang masuk ke Ponorogo. Bagi para WNA yang memang batas izin tinggal sudah habis, maka akan dilakukan pengejaran dan ditangkap untuk dideportasi ke negara asalnya. “Muhammad Imran Ini sudah habis ijin tinggalnya di Indonesia, dia telah melanggara aturan keimigrasian, akhirnya kita bisa tangkap untuk kita deportasi atau kita pulangkan ke negaranya,” kata Najarudin kepada Koran Memo kemarin.

Dikatakannya, Muhammad Imran merupakan suami dari Nadya Asharoh Windarti yang selama ini tinggal di Jl Parikesit Kelurahan Kepatihan Kecamatan/Kabupaten Ponorogo. Dia berhasil ditangkap berdasar informasi yang diperoleh dari pengawasan serta pengintaian tim Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo. “Karena kantor kita baru, dan sistem pun juga baru berjalan beberapa waktu yang lalu, sehingga yang bersangkutan baru terdeteksi dalam sistem kami. Setelah bisa dipastikan kemudian kita lakukan penangkapan kepada yang bersangkutan,” tambah Najarudin.

Usai dilakukan penangkapan, lanjutnya, kemudian yang bersangkutan yang telah tinggal melebihi dari batas yang telah diberikan selama 286 hari ini, akan diberikan sanksi dengan dilakukan detensi atau penahanan di kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo.

Dari hasil pemeriksaan, yang bersangkutan telah melakukan pernikahan di Pakistan dan akta pernikahannya telah didaftarkan ke Kedutaan Besar Indonesia di Pakistan. “Dari hasil pernikahannya, mereka telah dikarunia dua orang anak yang saat ini didaftarkan sebagai pemegang dwi kewarganegaraan (Afidavit),” jelas Najarudin.

Menurutnya, Muhammad Imran dianggap telah melanggar pasal 78 ayat (3) Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian, yakni pelanggaran batas over stay yang melebihi 60 hari.

“Setelah dilakukan penahanan di Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo kurang lebih 14 hari, yang bersangkutan akan dilakukan tindakan keimigrasian berupa pendeportasian yang akan dilakukan pada Selasa(29/03),” pungkasnya.(dik)