Suasana Rindang, Wisata Kuliner Tradisional Bring Rahardjo

Share this :

Batu, koranmemo.com – Suasana sejuk di bawah rindangnya pohon bambu, menjadi suguhan utama wisata kuliner tradisional Bring Rahardjo. Gazebo dan lapak kuliner yang terbuat dari bahan bambu beratapkan jerami, menambah nuansa tradisional semakin kuat. Lokasinya berada di Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Beberapa langkah setelah melewati gapura, pengunjung akan menjumpai beraneka kuliner tradisional seperti nasi jagung, pecel, lontong, dawet, kolak, rujak, jamu, kopi dan lain sebagainya.

Sembari menikmati hidangan kuliner, pengunjung juga dihadapkan dengan panggung hiburan musik tradisional. Pengunjungpun dapat menyalurkan bakat bernyanyi atau bermusik, untuk sekedar menyumbang sebuah lagu dan menambah ramai suasana wisata.

Yohanes, Pengelola Wisata Bring Rahardjo, menuturkan wisata yang didirikan sejak pertengahan 2019 ini memang mengusung nuansa tradisional. Terdapat lebih dari 30 pelapak melayani pengunjung Bring Rahardjo yang hanya buka hari Minggu mulai pukul 07.00 sampai 15.00 WIB.

“Kami (pengelola), sepakat sampai kapanpun tidak akan memasang tarif untuk tiket masuk. Semua bisa masuk dengan free (gratis). Dan silahkan menikmati rimbunnya bambu ini sambil berkuliner,” tuturnya.

Ambarwati (25), pengunjung wisata Bring Rahardjo, menyampaikan merasa senang dapat berkunjung. Suasana yang asri dan makanan tradisional ini mengingatkan pada kampung halaman.

“Baru kali ini saya kesini. Makanannya murah. Ini nasi pecel cuma Rp 8.000. Tempatnya sejuk, banyak pohon bambunya. Kayak rumah saya dikampung,” tuturnya sambil tertawa.

Kades Junrejo, Fandi Faisal Hasan, menuturkan bahwa berangkat dari ide warga sekitar untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga temuan situs serta menumbuhkan perekonomian. Berdirilah wisata kuliner Bring Raharjo.

“Kebetulan disini ada situs bersejarah yaitu Punden Sumber Jeding. Dan di area bambu ini dulu hanya di pake warga sekitar untuk membuang sampah rumah tangga. Kepedulian terhadap lingkungan dan situs, akhirnya munculah ide membangun wisata disini. Dari situ bergeraklah roda perekonomian warga sekitar. Khususnya, kami prioritaskan untuk ibu-ibu (janda dan kurang beruntung),” tambahnya.

Reporter Mokhamad Sholeh
Editor Achmad Saichu