Waspada Ancaman DBD Saat Peralihan Musim

Trenggalek, Koranmemo.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi ancaman bagi masyarakat ketika terjadi peralihan musim. Penyakit akibat virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut menjadi salah satu penyakit yang masuk dalam konsentrasi pengawasan khusus petugas kesehatan. Selain DBD, Diare hingga ISPA patut diwaspadai.

Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek, Saeroni, meminta masyarakat lebih waspada dan menjaga lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi upaya mencegah persebaran penyakit DBD. “Melalui PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan 3 M (menguras, menutup dan mengubur) Plus,” jelasnya, Selasa (14/1).

Sementara plus yang dimaksud adalah menaburkan bubuk larvasida hingga ikanisasi. Upaya pencegahan itu minimal dilakukan seminggu dua kali untuk mencegah nyamuk berkembang biak. “Kemudian dalam tataran tertentu kita lakukan fogging setelah kita melakukan kajian di lapangan. Jadi tidak serta merta langsung difogging, ada tahapannya,” kata Saeroni.

Kasus DBD di Trenggalek cukup menyita perhatian publik. Tahun 2018 terdapat 272 kasus dengan korban jiwa mencapai 3 orang. Sementara pada tahun 2019, kasus DBD naik drastis menjadi 507 dengan total korban jiwa mencapai 5 orang. Beberapa daerah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). “Kalau Trenggalek tidak (KLB), hanya peningkatan kasus,” jelasnya.

Untuk menanggulangi kejadian serupa, pihaknya telah merumuskan sejumlah terobosan. Diantaranya adalah adanya gerakan Kader Pemantau Jentik (Jumantik) minimal satu orang dalam lingkup sebuah keluarga. Mereka akan dibekali tentang penanggulangan penyakit DBD. “Sekitar tahun 2016 ada jumantik, sekarang ini sudah menyebar ke seluruh desa,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date