Warung Nasi Pecel dan Tumpang Mbah Boini

Share this :

Seporsi Hanya Rp 3.000, Tidak Pernah Sepi Pembeli

Kediri, koranmemo.com – Daya tarik suatu tempat kuliner biasanya terletak pada dua hal. Pertama, rasa dari makanan atau minuman yang dijual, dan yang kedua adalah harganya. Kalau ada tempat kuliner yang bisa memenuhi dua hal tersebut, tentu saja akan ramai pengunjung. Seperti warung nasi pecel dan tumpang di Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare ini.

Ketika mendekati lokasi warung nasi pecel dan tumpang ini, kendaraan bermotor sudah terlihat berjejer rapi. Banyak orang juga sudah berdiri mengantre untuk membeli nasi pecel dan tumpang yang resepnya dibuat sendiri oleh pemiliknya, Boini.

Bahkan, menurut para pembeli di sana, ada yang sudah menunggu warung tersebut buka sejak pukul 04.30 WIB. Pasalnya, kata mereka, kalau tidak dari pagi, nanti mereka kehabisan.

Boini mengaku, dia memang tidak pernah menambah porsi jualannya setiap hari sejak dulu. Dalam sehari, sejak buka sampai nanti habis, dia menyiapkan 70 kilogram nasi untuk sekitar 200 bungkus.

“Biasanya jam 9 pagi sudah habis,” kata perempuan berusia 67 tahun tersebut.

Kebanyakan dari pembeli membungkus nasi pecel tumpang buatannya untuk dibawa pulang. Pasalnya, warung miliknya itu sempit. Ukurannya hanya 3 x 2 meter. Jadi kalau ada yang ingin makan di sana, harus sabar menunggu ada kursi yang kosong. Dan kalau sudah makan, pasti cepat-cepat karena harus gentian dengan yang lain.

“Tapi juga tetap ada yang makan di warung. Biasanya bapak-bapak yang mau sekalian berangkat kerja,” katanya.

Boini sebenarnya tidak tahu secara pasti sejak kapan warung nasi pecel tumpang miliknya itu mulai ramai pembeli. Yang dia ingat, warungnya ini mulai buka sejak tahun 1985, tapi masih belum berjualan pecel tumpang. Selama setahun dia berjualan rujak. Namun karena merasa lelah harus selalu nguleg, di tahun 1986 dia mencoba berjualan nasi pecel tumpang sampai sekarang.

“Zaman dulu satu porsi cuma Rp 25. Paling murah se-Kediri. Sekarang pun saya yakin juga masih yang paling murah. Hanya Rp 3.000 satu porsi,” tutur Boini.

Apa yang dikatakan Boini mungkin ada benarnya. Dengan Rp 3.000 saja, pembeli sudah bisa menikmati satu porsi nasi pecel tumpang, lengkap dengan peyek dan tahu. Kalau ingin minum cukup tambah Rp 1.000, dan ada pilihan lauk lain seperti telur yang hanya dihargai Rp 2.500.

Boini mengaku memang tidak berniat mengambil keuntungan besar dari warungnya ini, kendati banyak yang menyarankan untuk menaikkan harganya. Tapi dia urung melakukannya karena menurut dia, apa yang dia sapatkan selama ini sudah lebih dari cukup.

“Kalau memang ini rasanya enak dan pantas dihargai lebih, kelebihannya itu sudah saya anggap sedekah saya,” katanya.

Boini mengatakan, dia mengelola warung ini tidak sendirian. Dia mengajak cucu, anak dan menantunya untuk juga ikut membantu. Ada yang membantu membungkus nasi, cuci piring, membuat minuman dan belanja di pasar. Bahkan ada satu saudaranya yang juga membantu urusan parkir.

“Saya berharap, sampai kapanpun usaha ini akan diteruskan kepada anak dan cucu. Karena dulu saya telah berjuang sendiri mulai dari mengumpulkan uang saat kerja di gudang kapuk,” tuturnya.

Boini dan keluarganya mulai persiapan buka sejak pukul 2 pagi. Yang paling pertama mereka lakukan tentu saja adalah menanak nasi karena itu yang paling lama. Nanti menjelang buka, mereka baru persiapkan sayurnya, menggoreng tahu dan lauk pauk lainnya agar tetap hangat saat nanti warung buka.

Pembeli yang datang ke warung Boini ini kebanyakan dari wilayah Kediri, namun ada pula yang dari luar kota seperti Jombang, Surabaya, Blitar. Mereka rela datang hanya ingin mencoba nasi pecel dan tumpang miliknya yang ternyata terkenal dari mulut ke mulut.

Warungnya ini sempat ditutup selama Covid-19 melanda Indonesia. Namun setelah dibuka lagi di era adaptasi baru, warung ini kembali ramai pembeli. Sesuai aturan pemerintah, dia dan keluarganya mematuhi protokol kesehatan, mulai dari memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Kunyati (43), salah satu menantu Boini menuturkan, dia merasa termotivasi untuk membantu Boini karena di usia yang sudah menginjak kepala 6, dia masih tetap semangat dan tidak pernah mengeluh. Dia pernah menyarankan Boini untuk istirahat dan santai di rumah, namun dia tidak mau dan ingin terus membantu jualan.

“Dulu setiap hari malah ke pasar sendiri juga. Tapi sekarang dia sudah mulai percaya dengan cucu-cucunya untuk masalah belanja,” kata Kunyanti.

Sama seperti Boini, Kunyanti juga sudah bersyukur dengan pendapatan mereka saat ini. Hanya dengan Rp 3.000, dalam sehari mereka bisa menikmati keuntungan Rp 400 ribu hingga Rp 500.000.

Reporter : Rizky Rusdiyanto

Editor : Della Cahaya