Warga Protes Traktor PG Mojopanggung

Angkut Tebu Rusak Jalan Desa

Tulungagung, koranmemo.com – Sebagian warga Desa Tulungrejo Kecamatan Karangrejo memprotes alat berat traktor yang mengangkut tebu dari area tanaman ke jalan utama desa. Karena alat berat tersebut merusak jalan. Akibatnya jalan yang belum diaspal itu semakin dalam. Hal itu dikhawatirkan bisa menyebabkan longsor dan merusak tanaman di samping jalan. Protes mereka disampaikan ke kantor desa setempat Selasa (6/12) pukul 10.00 WIB. Mereka ditemui PJ Kepala Desa, Afif Sakti Wibowo, anggota Polsek Karangrejo, dan Babinsa.

Bero (46) salah satu warga menyebut dia tidak sepakat jika mengangkut tebu menggunakan alat berat. Karena alat berat tersebut bisa merusak jalan. Apalagi tanahnya gembur dan bisa menyebabkan jalan lebih dalam sehingga jalan itu sulit dilalui. “Jalan menjadi lumpur ditambah kena air hujan,”katanya.

Namun demikian, lanjut Bero, jika mengangkut tebu menggunakan traktor lebih murah biayanya dibandingkan dengan ojek atau jeep. Dengan traktor cukup mengeluarkan uang Rp 200 ribu per rit. Sedangkan pakai ojek atau jeep per kolong tebu Rp 11 ribu. “Kalau pakai traktor per kolongnya Rp 3 ribu. Ada selisih Rp 8 ribu per rit,”jelasnya.

Memang menurut Bero, jika musim hujan jalan tersebut tidak bisa dilewati truk. Karena jalannya licin terkena air hujan. Jalan berada di perbukitan itu tidak ada bebatuan.

Sudibyo (54) warga juga pemilik lahan tebu mengatakan dia mengajukan permohonan bantuan traktor tersebut ke pihak Pabrik Gula (PG) Mojopanggung untuk mengangkut tebu. Alasannya petani hanya mengeluarkan biaya murah. Tapi dia menyadari jika alat berat itu merusak jalan.

Lanjut Ari dia baru menggunakan traktor sebanyak 1 kali untuk membawa 1 rit dan itu artinya 3 kali PP. Karena diprotes warga maka ia menghentikan penggunaan traktor tersebut. “Jika traktornya nanti tidak jadi dipakai ya nanti dikembalikan,” terangnya.

Sementara itu PJ Kepala Desa, Afif Sakti Wibowo (33) mengatakan mengatakan traktor memang harus ditarik karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan, alternatifnya warga memakai ojek dan jeep.

Ketika ditanya soal perbaikan jalan Afif mengatakan ada mekanisme yang harus dilakukan. Warga harus mengajukan aspirasi melalui musyawarah dusun, kemudian ditindak lanjuti melalui musyawarah desa, dan baru disahkan lewat APBdes.

“Untuk 2017 memang ada perbaikan jalan dan perbaikan jembatan, namun untuk jalan ke kebun tebu ini masih belum, karena belum diajukan, rencana 2017 akan diajukan dan kemungkinan 2018 akan dilaksanakan,” pungkasnya.(yop/Jb)

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date