Warga Protes Limbah Pabrik Tapioka Berbau Busuk

Madiun, koranmemo.com Warga Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun memprotes Pabrik Tapioka PT. Budi Starch & Sweetener, Tbk yang ada di desa setempat. Akibat, bau busuk limbah produksi pabrik.

Salah satu perwakilan masyarkat, Joko Sutrisno  (28) mengungkapkan bahwa bau limbah yang ditimbulkan pabrik ini telah mengganggu aktivitas dan juga kesehatan warga.

“Bau limbah menganggu pernapasan warga dan bayi atau anak sekolah juga terganggu karena nafsu makan anak berkurang. Kami menuntut pabrik bertanggungjawab,” katanya, Senin (15/7).

Ditegaskan, jika dalam waktu tiga hari tidak ada penyelesaian, maka warga akan menuntut pabrik ditutup. Selain itu meminta agar limbah yang dibuang ke aliran sungai maupun irigasi sawah harus steril sesuai dengan baku mutu.

“Apabila setelah tenggang waktu tiga bau masih menyengat, warga sepakat meminta pabrik untuk menghentikan produksi,” tegasnya.

Sementara petugas Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) Candimulyo, Samiati (64) membenarkan adanya bau limbah yang menggangu kesehatan, terutama anak-anak dan orang tua. “Kalau tidak ada solusi kasihan anak-anak,” katanya.

Disampaikan, tidak sedikit juga warga yang harus keluar masuk rumah sakit untuk berobat terkait pernapasan, terutama orang tua yang sudah mengindap penyakit paru-paru sampai berakibat fatal juga banyak. “Banyak orang dewasa yang harus keluar masuk rumah sakit, iya kalau orangnya berada kalau tidak kan kasian,” kata Samiati.

Koordinator Biogas Plan Sungai Budi Group, Heri Sutanto mengakui bahwa pabrik tempatnya bekerja memang menimbulkan bau tidak sedap. Limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tepung tapioka berupa limbah organik, dari aktivitas dari bahan organik inilah yang menimbulkan bau.

Penangan bau dengan penutupan kolam menggunakan cover lagoon. Biogas yang dihasilkan dari aktivitas pabrik dimanfaatkan sebagai sumber energi terbaru,  salah satunya untuk bahan bakar proses pengeringan tapioka.
Biogas ini yang menimbulkan bau karena mengandung H2S,CO2 dan gas metana. “Gas metana ini kalau tidak kita cover akan menghasilkan gas rumah kaca,” kata Heri.
PT BSSW bersedia memenuhi tuntutan warga akan menangani permasalahan ini selambat-lambatnya satu minggu untuk menutup cover lagoon yang robek. Namun pihak PT tidak menjamin bau akan hilang seratus persen, berdasarkan pengalaman Heri menangani limbah pabrik setelah adanya pemanfaatan biogas bau berkurang.

“Kalau semisal hilang seratus persen itu merupakan hal yang tidak mungkin,” ujarnya.
Terkait dengan limbah yang dibuang ke sungai, ia memastikan jika limbah sudah dalam keadaan steril. “Limbah sudah dibuang ke sungai sudah terakhir pada bak 10 sudah netral, ikan saja hidup disana,” sanggahnya.

Reporter Juremi

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date