Warga Papua di Kota Blitar Pulang ke Daerah Asal

Share this :

Blitar, koranmemo.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar mencatat ada 10 pelajar asal Papua yang pulang ke daerah asal. Mereka adalah pelajar program Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem), total 21 pelajar yang menempuh pendidikan di Kota Blitar.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Daerah (Kesbangpol PBD) Kota Blitar, Hakim Sisworo mengatakan, ada 15 pelajar Papua yang menempuh pendidikan di SMA Khatolik Diponegoro, 4 pelajar di SMKN 1, dan 2 pelajar di SMAN 2 Kota Blitar. Tercatat ada 10 pelajar yang meninggalkan Kota Blitar, 4 pelajar dari SMKN 1 pindah secara resmi ke Kabupaten Mimika, Papua, dan 6 pelajar di SMAK pulang.

“Semenjak kerusuhan pertama di Surabaya dan Malang kemarin, kami memantau ada yang pulang ke Papua, ada yang keluar ke daerah lain seperti Jakarta, ada juga yang kembali lagi ke sini untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya, Selasa (1/9).

Kesbangpol Kota Blitar terus koordinasi dengan jajaran samping. Pasalnya, mereka tinggal di kos – kosan. Hakim, terus mendata masyarakat Kota Blitar yang masih tinggal di Papua. “Kita belum tahu ada atau tidak. Tapi sudah kita intruksikan pada Pak Lurah, dan Pak Camat jika ada yang baru pulang dari Wawena untuk segera di informasikan,” terang Hakim.

Terpisah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAK Diponegoro Kota Blitar, Eko Hariyanto membenarkan 6 siswanya pulang ke Papua. Namun, 5 pelajar pulang setelah peristiwa kerusuhan, dan 1 siswa pulang sebelum terjadi kerusuhan.

“Yulianus Yoppe dia siswi kelas X dari Kabupaten Dogiyai, pulang lebih dulu karena sakit. Pihak rumah sakit di sini sudah menyarankan agar pulang saja agar bisa lebih mudah dirawat oleh keluarga di sana. Jadi kami izinkan,” ujarnya saat ditemui di sekolahnya.

Eko menambahkan, lima pelajar lainnya pulang tanpa surat izin resmi, pihak sekolah hanya mendapatkan pembicaraan dari keluarga pelajar melalui telpon seluler. Mereka pulang dijemput langsung oleh saudara yang ada di Jawa. Selain itu, ada yang sudah mendapatkan tiket sehingga langsung pulang ke Papua.

“Mereka ada yang dijemput kakaknya yang kuliah di Jogja, ada juga ditelpon orangtua agar pulang saja. Padahal di sini kami sudah sering kasih motivasi agar tetap tinggal di Blitar karena sayang sudah bisa belajar di Jawa dapat bantuan dari Pemerintah juga. Mungkin, tekadnya sudah kuat jadi tidak bisa diubah lagi keinginannya,” terang Eko.

“Mereka meninggalkan Kota Blitar tidak bersamaan. Atas nama Yanus Kepno dari Kabupaten Yalimo pergi tanggal 28 Agustus, saat ini dia kelas XI. Akius Maling Kelas XI dari Kabupaten Yalimo pergi pada 30 Agustus, Antelo Wenda kelas X dari Kabupaten Lanny Jaya, dan Marlince Kotouki kelas X dari Kabupaten Mimika pergi pada tanggal 31 Agustus. Terakhir, Dison Kogoya kelas XI daru Kabupaten Sentani, pergi pada tanggal 2 September,” tambah Eko Hariyanto.

Sampai saat ini masih ada 9 pelajar dari Papua yang menempuh pendidikan di SMAK Diponegoro Kota Blitar. Sekolah itu terbanyak, karena setiap tahun menerima siswa program ADEM tersebut. “Yang di sini angkatan kedua, kami sudah meluluskan angkatan pertama tahun ajaran 2014-2015,” jelas Eko Hariyanto.

Sementar itu, Elion T Tumana pelajar asal Kabupaten Kaimana Papua Barat mengaku, mendapat saran dari Ibunya untuk pulang pasca kerusuhan tersebut. Namun, siswa kelas XII SMAK Diponegoro itu juga menerima saran dari Ayahnya yang meminta agar bertahan di Kota Blitar. Apalagi, dia bercita – cita ingin lulus sarjana menjadi dokter.

“Saya ingin menyelesaikan pendidikan saya dulu di Jawa sini. Nanti setelah pulang Saya ingin bangun Papua. Sebenarnya sama Ibu di suruh pulang, tapi sama Bapak Saya bilang tidak usah pulang dulu menunggu situasinya membaik,” ujarnya.

Elion berharap, situasi di Papua bisa segera membaik. Pelajar yang ada di Jawa juga bisa menempuh pendidikan dengan baik. “Harapan Saya kedepan semoga tidak terjadi lagi seperti ini. Intinya kami orang Papua di sini sekolah untuk membangun Papua,” jelasnya.

Reporter Zayyin multazam sukri
Editor Achmad Saichu