Warga Ngliman Rebutan Air Jamasan Pusaka

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Ratusan warga Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk, mulai dari anak-anak hingga dewasa, berebut air tuah dari jamasan pusaka, Jumat (6/9/2019) siang. Mereka meyakini jika air bekas jamasan ini bisa sebagai tolak balak.

Suyono (40) warga setempat mengatakan, dia rela berdesak-desakan dengan warga lainnya demi untuk mendapatkan air bertuah ini. Meski tidak boleh dikonsumsi, kata dia, air bekas jamasan ini cukup mujarab untuk pengobatan.

“Saya setiap hari kan ke ladang, jadinya capek dan pegal-pegal di kaki. Setelah saya olesi air jamasan, pegal-pegal di kaki hilang. Air ini juga saya gunakan untuk pagar rumah,” ujarnya.

Senada juga diungkapkan oleh Suryani (45). Selain untuk pengobatan, air bertuah ini diyakininya bisa dipakai sebagai pagar diri. Menurutnya, setelah cuci muka dengan air ini, dirinya merasa semakin percaya diri.

“Air ini saya tambahi dengan air dari Sedudo lalu saya simpan. Setiap tahun saya ikut berebut air bertuah ini,” kata pria asal Kelurahan Jatirejo Kecamatan/Kabupaten Nganjuk ini.

Sementara itu, Sumarno (79) sesepuh desa yang menjamas Kiai Kembar menjelaskan, air bekas jamasan pusaka ini memang diyakini warga sebagai tolak bencana dan penolak penyakit.

Bisa juga dipakai pagar diri maupun pagar rumah. “Air ini hanya sebagai sarana, semuanya atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya

Diketahui, 6 pusaka Desa Ngliman, di antaranya Kiai Kembar, Kiai Bondan, Kiai Jogo Truno, Kiai Betik, Eyang Dukun dan Raden Panji, hari ini dijamas. Namun tidak semua pusaka direndam di air, hanya Kiai Kembar saja yang direndam.

Nah, air rendaman dari jamasan Kiai Kembar inilah yang diperebutkan warga setiap tahunnya. Bukan hanya warga setempat saja yang berebut air, namun warga luar desa termasuk para wisatawan juga ikut berebut air.

Reporter : Muji Hartono
Editor : Achmad Saichu