Warga Miru Panen Blewah, Musim Kemarau yang Menguntungkan

Lamongan, koranmemo.com – Musim kemarau rupanya menjadi moment penting bagi petani buah blewah di Lamongan. Pasalnya, usai melakukan panen tidak perlu repot lagi menjualnya ke beberapa pasar desa maupun sejumlah pasar di Lamongan. Justru tengkulak dari daerah lain yang berdatangan.

Meski begitu, harga jual blewah kali ini berbeda lebih murah dibanding tahun sebelumnya yang sedikit melambung. Hal itu lantaran dibarengi dengan panen di wilayah Jawa Tengah.

Seperti dijelaskan, Sayuti salah seorang petani asal Desa Miru Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan. Kepada awak media dia mengaku bahwa panen buah blewah kali ini cukup lumayan, akan tetapi harganya masih ada penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Meski begitu, dirinya mengakui masih mendapatkan untung dari hasil penjualan tersebut. Terlebih, tidak perlu menjual ke pasar desa maupun pasar yang ada di kota Lamongan. “Ada tengkulak dari Surabaya yang datang,” akunya.

Ada perbedaan harga dari tahun sebelumnya. Dulu per kilogramnya, Rp Rp 5 ribu – Rp 6 ribu, tapi untuk saat ini hanya Rp 4 ribu untuk harga tengkulak. Sedangkan untuk pengecer dibandrol dengan harga Rp 6 ribu. “Untungnya kita tak perlu jual ke pasar,” jelasnya.

Untuk tengkulaknya, masih menurut Sayuti, tidak hanya dari Surabaya melainkan daerah lain seperti Gresik dan Sidoarjo. Selama bertahun tahun, diakuinya menjalani bercocok tanam dengan menyewa lahan desa. meski begitu dirinya tiap kali panen, pasti mendapatkan untung.

Sembari merinci sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk modal awal, dirinya juga menyebut jika setelah melakukan tanam blewah, giliran kemudian bercocok tanam padi. “Modal untuk tanam blewah senilai Rp 2 juta – Rp 3 juta, jika sudah panen nilainya mencapai Rp 5 juta – Rp 6 juta. Dan untuk padi, modalnya pun berbeda,” ungkapnya.

Reporter Fariz Fahyu

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date