Warga Kediri yang Selamat Dari Ricuh Berdarah di Wamena: Tak Ingin Kembali ke Papua

Kediri, koranmemo.com – Setiap orang pasti mempunyai niat untuk menjadi sukses dan membanggakan keluarga. Niat itu yang mendorong Abu Rohman warga Kelurahan Kaliombo Kecamatan/Kota Kediri menjadi perantau ke Provinsi Papua. Namun apa daya, kerusuhan yang pecah memudarkan angan-agannya dan memutuskan untuk kembali ke Kota Kediri.

Abu, sebelumnya sehari-hari menjadi pengemudi truk bermuatan sembako di area Kota Kediri dan beberapa kota dan kabupaten lainnya. Awal April, salah satu temannya memutuskan untuk mengajak merantau ke Papua tepatnya di Wamena, diapun mengiyakan ajakan temannya itu dengan harapan lebih sukses dan mendapat rejeki yang lebih baik.

Setelah tiba di Wamena, laki-laki berusia 29 tahun ini kembali dipercaya untuk mengambil barang-barang dari Bandara, karena sudah sering mengemudikan truk dan mengetahui barang apa saja yang dipesan. “Barangnya sembako, seperti minyak dan beras. Bos saya itu di sana sebagai agen, jadi saya juga tinggal di ruko bersama bos,” tuturnya.

Kehidupan yang dirasa aman, nyaman, dan damai selama 6 bulan terakhir, tiba-tiba mulai muncul konflik serta demo di beberapa tempat. Kata Abu, justru bukan masyarakat yang berada di sekitar tempat tinggalnya yang mulai demo, tapi masyarakat dari daerah atas (pegunungan). Mereka tidak hanya demo, beberapa dari mereka mulai melempari batu.

Sasaran lemparan masyarakat yang terlihat emosi bukan hanya kantor saja, rumah dan toko pun tak luput dari amukan. “Aslinya di sana itu nyaman, masyarakatnya juga baik. Sudah seperti di kampung halaman sendiri, tapi saat mulai kerusuhan, kondisinya mencekam. Semua warga pendatang takut, khawatir kalau menjadi korban kerusuhan,” tuturnya.

Karena, warga yang demo tidak cukup melempari batu dan merusak bangunan, mereka mulai membuka botol bensin yang dijual eceran dan membakar bangunan. Tidak sedikit dari mereka yang membawa perlengkapan seperti di medan perang, ada yang membawa panah, parang, dan bebrala dari mereka juga membawa senjata api.

Menurutnya, warga pendatang mulai dikumpulkan oleh petugas TNI dan Kepolisian, Koramil, Kodim, Polres, serta Polsek menjadi tempat mengungsi dan satu-satunya tempat paling aman saat kerusuhan mulai terjadi. “Kebetulan saya bersama paguyuban warga pati (PWP), jadi masyrakat Jawa mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, semua berkumpul dan saling membantu,” ujarnya.

Anak kedua dari dua bersaudara ini, hanya bisa membawa telepon genggam dan charger serta baju yang dipakai saat menyelamatkan diri. Surat-surat berharga seperti ijazah, kartu keluarga (KK), akta kelahiran, akta nikah, dan KTP ludes terbakar. Karena, toko yang menjadi tempat tinggalnya selama bekerja tak luput dari amukan pendemo.

Selain surat-surat berharga, uang yang dikumpulkan juga ikut terbakar. “Uang untuk modal toko sekitar Rp 300 juta juga terbakar, belum lagi barang-barang yang baru datang. Padahal, rencana saya di sana sampai dua tahun ke depan, tapi bagaimana lagi, namanya juga musibah,” ucapnya.

Perjuangan Abu masih terus berlanjut, pengungsi dibagi menjadi beberapa kloter untuk dipulangkan ke daerah masing-masing. Saat itu, dia mendapat kesempatan untuk pulang lebih awal, salah satu temannya yang juga berasal dari Kota Kediri, sampai saat ini masih dalam perjalanan pulang.

Ini hal yang lumrah bagi Abu, pasalnya dia memerlukan waktu lebih dari 10 hari untuk bisa menapakkan kaki di Kota Kediri. Dari Wamena, transit ke Timika lalu terbang menggunakan pesawat Hercules menuju Ambon, Makasar, Bali, Semarang, dan terakhir di Madiun. Selama perjalanan, tetap PWP dan petugas yang memenuhi semua keperluannya.

Abu baru memberitahu kakaknya, Aswanto ketika di tengah-tengah perjalanan tepatnya di Tol Kertosono. Untuk memulihkan diri dari trauma yang dirasakan, dia mendapat terapi dari psikolog dan petugas kesehatan dari Puskesmas Ngronggo dan Rumah Sakit (RS) Gambiran serta Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri.

Dia juga mencari kesibukan sehingga tidak mengingat kejadian selama di Wamena, saat ini mengurus surat-surat seperti akta nikah untuk menyibukkan diri. Meskipun pemberitaan yang memuat kondisi Wamena sudah kondusif, Abu enggan kembali ke sana. “Nggak, cari kerja di sini saja. Teman-teman dan warga lainnya juga tidak ingin kembali, mereka masih trauma,” imbuhnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date