Wahyu Mujahidin, Pratama Pramuka SMPN 3

Tetap Bertahan Meski Banyak Teman yang Tidak Aktif

Kediri, Koran Memo – Menjadi seorang pemimpin sering dihindari karena dianggap memikul tanggung jawab yang sangat besar. Namun tidak bagi Wahyu Mujahidin. Siswa kelas 8 SMP Negeri 3 Kediri yang saat ini menjadi seorang Pratama (Pemimpin Regu Utama/Ketua Pramuka,red) menganggap menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah amanah yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Karena baik dan buruknya sebuah organisasi mutlak berada di tangannya.

Koordinasi: Wahyu Mujahidin membagi tugas kepada seluruh anggota pramuka SMP Negeri 3 (kurniawan/memo)
Koordinasi: Wahyu Mujahidin membagi tugas kepada seluruh anggota pramuka SMP Negeri 3 (kurniawan/memo)

Wahyu mengaku sudah menyukai kegiatan pramuka sejak kelas 3 SD. Bahkan saat masuk ke SMP, ia begitu giat mengikuti kegiatan kepramukaan sehingga dipercaya memimpin organisasi.

Putra dari pasangan Sukiran, seorang pekerja bangunan dan Sri Kuntari yang saat ini bekerja sebagai tenaga kerja wanita tersebut mengaku memang tanggung jawab seorang pemimpin sangat berat. Namun, dengan ketekunan dan tekad kuat, ia mampu mengarahkan seluruh anggotanya untuk melakukan kegiatan organisasi secara baik. “Memang tanggung jawabnya berat. Tapi itu merupakan tantangan bagaimana membuat seluruh anggota bisa menjalankan kegiatan dengan baik,” ujarnya.

Menjadi seorang pemimpin, kata Wahyu membutuhkan kekuatan. Bukan saja dari fisik, tapi juga mental. Diantara teman-temannya sesama anggota pramuka yang mulai meninggalkan keorganisasian, ia yakin bisa terus mengembangkan dan memajukan organisasi yang dipimpinnya hingga menorehkan prestasi yang bisa membanggakan.

Permasalahan ketidak kompakan anggota merupakan sebuah kewajaran. Oleh karenanya, sebagai seorang pemimpin, perlu adanya pembagian tugas yang tepat dan sesuai dengan kemampuan anggotanya. Seorang pemimpin juga tidak bisa hanya berdiam diri saja. Bahkan Wahyu mengaku apabila ada anggotanya yang tidak sanggup melaksanakan tugas yang sudah diberikan, ia siap turun tangan dan memberikan bantuan. “ Susahnya kalau tidak bisa kompak. Pemimpin harus bisa mengerjakan sendiri setiap tugas yang dibebankan. Makanya perlu pembagian tugas yang sesuai,” imbuhnya.

Sifat kemandirian yang dimiliki oleh Wahyu sudah lama diterapkan oleh sang ayah. Bahkan selama mengikuti kegiatan pramuka, ayahnya selalu berpesan untuk tidak pernah mengeluh atau patah semangat. “Kalau ayah pesannya hanya satu. Boleh ikut pramuka, tetapi tidak boleh mengeluh dan harus tetap semangat,” ujarnya.

Selain itu, kesederhanaan juga menjadi salah satu dorongan bagi Wahyu untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang mengerti anggotanya. Wahyu mengaku, untuk mendapatkan sebuah ponsel saja, ia harus rela menyisihkan sebagian uang sakunya selama satu tahun untuk bisa mewujudkannya. “Biasanya kalau dapat uang saku, separuhnya saya tabung untuk beli HP. Sekarang sudah setahun dan terkumpul Rp 100 ribu,” ujarnya.(kur)

Follow Untuk Berita Up to Date