Wagub Jatim Tinjau Posko Siaga Darurat Penanggulangan Bencana

Surabaya, koranmemo.com – Memasuki musim hujan pada awal tahun 2020, Wakil Gubernur (wagub) Jawa Timur (Jatim), Emil Elistianto Dardak, meninjau Posko siaga darurat penanggulangan bencana hidrometeorologi (gerakan tanah/longsor, banjir, angin kencang, puting beliung) di halaman Kantor BPBD Provinsi Jawa Timur di Jl. Waru, Sidoarjo, Kamis (02/01/2020).

“Saya mengikuti bahwa ada laporan banjir berdasarkan laporan dinas PU SDA selama seminggu trakhir. Ada yang di Mojokerto, ada yang di Bojonegoro, ada yang di Madiun,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (02/01/2020).

Emil menyatakan bahwa pasca Gubernur mengimbau mengenai SK Siaga Bencana berdasarkan laporan dari BMKG di akhir bulan November lalu, dari 38 Kab/Kota di Jatim, baru 15 Kab/Kota yang sudah tanda tangan. Terkait laporan banjir di Mojokerto, Bojonegoro, dan Madiun, menurutnya, Madiun belum melakukan tanda tangan penerbitan SK Siaga Bencana tersebut. “Mojokerto dan Bojonegoro sudah menerbitkan sedangkan Madiun belum,” ungkapnya.

Dikatakan bahwa pihaknya terus memonitoring kepada 15 Kab/Kota yang sudah menerbitkan SK Siaga Bencana tersebut, apakah mereka sudah melakukan langkah-langkah yang dimungkinkan dari adanya SK tersebut untuk mengantisipasi, meningkatkan kesiagaan. Karena menurutnya, hal tersebut tidak selesai saat SK tersebut tertandatangani, melainkan 15 Kab/kota tersebut mampu menentukan apa langkah efektif mereka untuk mempersiapkan diri jika ada kemungkinan bencana terjadi.

“Ini tadi yang mau diinventarisir langsung oleh Kepala pelaksana BPBD, karena tugas kita gak selesai untuk surat itu di tanda tangan. Tetapi dengan memegang surat itu apakah mereka sudah memaksimalkan langkah-langkag yang bisa diambil,” katanya.

Dikatakan, pihaknya bersama instansi terkait juga membahas mengenai rencana operasi yang sangat komprehensif mengenai penanggulangan bencana. Pihaknya akan membedah satu persatu rencana-rencana yang ada dalam draft Ren Ops bersama dengan BMKG, Unit Kepolisian dan TNI terkait mana yang mengurusi logistik, komunikasi bahkan sampai ke susur sungai dan susur bukit untuk langkah-langkah prefentiv. “Ini yang nanti akan segera kita sepakati satu persatu dengan seluruh instansi yang disebutkan di dalam draf ren ops tadi,” ucapnya.

Dalam penanganannya nanti, dirinya mencontohkan tentang sungai bengawan solo, dalam kasusnya, luapan sungai bengawan solo ada yang disebut banjir kiriman. Menurutnya, curah hujan tinggi yang tidak terjadi di wilayah Jatim, bisa berdampak banjir di Jatim. Hal ini dikarenakan hulu sungai bengawan solo 30% di Jawa Tengah, dan hilirnya 70% ada di Jatim.

“Maka kita juga ikut memantau secara update kondisi hujan yang terjadi di hulu sungai bengawan solo dan siap mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir kiriman. Inilah yang memungkinkan kita untuk segera menentukan langkah-langkah kepada masyarakat. Masyarakat harus waspada tapi tidak usah panik,” ujarnya.

Sementara terkait titik-titik banjir yang kerap terjadi di Jatim, ia menyebutkan selain Sungai Bengawan Solo, ada beberapa titik diantaranya Sungai Berantas, Kali Lamong, dan di Madura yakni Kali Kemuning. Selain itu, yang perlu diwaspadai menurutnya tidak hanya banjir, melainkan longsor juga. Untuk mengantisipasi longsor tersebut, pihaknya akan menyediakan sumur resapan air di daerah yang berpermukaan datar.

Saat melakukan peninjauan posko tersebut, Emil beserta jajaran instansi terkait juga melakukan pengecekan terhadap ketersediaan alat-alat evakuasi mulai dari perahu karet dan Jerigen. Jerigen tersebut disediakan untuk mengakses proses evakuasi di gang-gang yang tidak bisa dimasuki perahu karet.

Reporter: Dimas Mahendra
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date