Wadai Produk Kerajinan Tangan Penyandang Disabilitas

Trenggalek, Koranmemo.com – Distribusi pemasaran produk kerajinan tangan yang digeluti para penyandang disabilitas di Trenggalek menuai hambatan. Meskipun sebagian para penyandang disabilitas sudah mulai memproduksi skala besar, namun mereka masih bingung tentang bagaimana cara memasarkannya. Pasalnya mereka terbatas soal informasi kebutuhan pangsa pasar.

Keterbatasan jangkauan segmen pasar itu salah satunya dialami oleh Riswandi, warga Kelurahan Surondakan. Dia mengaku kebingungan untuk memasarkan produk kerajinan seusai mengikuti pelatihan di Balai Loka Karya (BLK) Trenggalek. “Kami tidak mempunyai tempat untuk memajang atau memamerkan. Mohon dibuatkan tempat sekaligus kantor sekretariat,” ujarnya, Rabu (30/10).

Dia mengaku senang bisa mengikuti pelatihan handicraft selama 10 hari yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Trenggalek. Namun disisi lain, ia masih kebayang-bayang soal pemasarannya. “Ingin usaha tapi tidak mempunyai tempat (untuk memasarkan),” kata penyandang disabilitas lain yang mengikuti pelatihan, Sukatmo.

Permasalahan pemasaran produk kerajinan tangan mayoritas menjadi kekhawatiran para penyandang disabilitas yang ingin menekuni dunia usaha. “Untuk sementara ini hasil produk bisa dititipkan di Galeri Gemilang dan nanti juga akan kami bawa ke tempat lain seperti milik pemda di Sarinah Jakarta,” kata Ketua Dekranasda Trenggalek, Novita Hardini saat menghadiri penutupan kegiatan pelatihan di BLK Trenggalek.

Selain itu pemda juga berencana membuatkan tempat khusus hasil kerajinan tangan penyandang disabilitas. Pemda juga berencana memasarkan produk tersebut ke berbagai tempat wisata melalui outlet khusus. “Kalau di kota ada Galeri Gemilang. Nanti kami juga ingin produk itu bisa dipasarkan di tempat wisata, seperti Pantai Prigi,” ujarnya.

Produksi kerajinan tangan Trenggalek, lanjut istri Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin sangat potensial. Berkaca dari omset outlet milik pemda di Sarinah Jakarta bisa menghasilkan Rp 30 sampai Rp 40 tiap bulan. “Selain mengikuti segmen, kita juga punya beberapa produk yang jarang dimiliki di sana (Sarinah). Seperti misalnya blangkon dan produk lainnya,” pungkasnya.

Kepala Dinsos P3A, Ratna Sulistyowati menyebut, penyetaraan kaum rentan dan penyandang disabilitas melalui pemberdayaan menjadi salah satu konsentrasi Pemkab Trenggalek. Dalam waktu dekat, pemda bakal meresmikan Sekolah Perempuan Disabilitas, Anak dan Kelompok Rentan (Sepeda Keren). “Seperti halnya pelatihan saat ini,” kata dia.

Pelatihan handicraft untuk tuna daksa yang digelar kedua kalinya di tahun ini akan diselenggarakan berkesinambungan. Selain itu, pemda juga mewadahi penyandang disabilitas lainnya sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan. “Selain keterampilan, juga diberikan modal usaha diantaranya melalui pemberian alat-alat,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu