Wacanakan Konservasi dan Produksi Tanaman Bambu di Hutan di Trenggalek

Trenggalek, koranmemo.com – Penanaman pohon bambu di hutan dengan luas lahan sekitar 500 hektare akan segera dilakukan. Selain fungsi ekologi, penanaman bambu secara massal yang rencananya direalisasikan akhir tahun itu juga bakal berdampak segi ekonomis. Selain fungsi konservasi, jenis pohon yang mudah tumbuh di sembarang tempat itu juga dimanfaatkan sebagai produksi.

Wacana ini disampaikan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, saat menanam pohon bambu secara simbolis di kawasan Hutan Kota di Gunung Jaas, Senin (17/6) sore. Penanaman pohon secara simbolis ini untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup sekaligus sebagai langkah awal wacana penanaman pohon bambu secara massal. “Nanti akan kita gerakkan secara massal,” kata Mas Ipin, sapaan akrabnya.

Pihaknya tengah mengurus proses administrasi berupa memorandum of understanding (MOU) dengan pihak Perhutani, untuk menanam bambu secara massal di lahan dengan total luas 500 hektare. Penanaman akan dilakukan di beberapa titik strategis. “Kami sudah ajukan untuk menanam bambu di seluruh hutan di wilayah Trenggalek bekerja sama dengan LMDH dan KPH,” ujarnya.

Penanaman bambu secara massal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Topologi wilayah Trenggalek mengharuskan banyaknya tanaman hijau untuk mencegah bencana ‘musiman’ seperti tanah longsor, banjir dan juga kekeringan. Harapannya tanaman ini menjadi alternatif solusi jangka panjang. “Kenapa bambu, karena di Trenggalek unik. Kalau musim hujan banjir atau longsor, tapi kalau musim kemarau nggak ada air,” imbuhnya.

Selain fungsi ekologi, tanaman bambu dipilih karena bisa dimanfaatkan dari aspek ekonomis. Misalnya untuk pemanfaatan perabotan rumah tangga hingga kerajinan yang marak digaungkan karena dinilai ramah lingkungan. “Sebagian bisa dipanen untuk bambu laminasi, furniture, sedotan yang sudah dikirim ke Bali dan nantinya kalau bisa mungkin seratnya dibuat baju, untuk konveksi, lebih eco friendly,” kata dia.

Andy Iswindarto, Wakil Administratur KSKPH Perhutani Kediri Selatan mengatakan, nantinya polarisasi penanaman bambu secara massal itu akan melibatkan banyak pihak. Tak hanya kerja sama soal penanaman pohon, namun juga mencangkup kapasitas produksi. “Nanti tiga pihak, LMDH, Perhutani dan investor atau mungkin pemkab. Nanti kalau memungkinkan bisa diambil hasil produksinya,” jelasnya.

Pihaknya menargetkan akhir Desember tanam bambu massal bisa terealisasikan. Penanaman ini menyesuaikan siklus dan fungsi tanaman tersebut. Nantinya ribuan bambu itu bakal di tanam di lahan yang ‘kritis’ atau sulit ditumbuhi tanaman atau pohon lainnya. “Penanaman kalau di hutan tadah hujan, jadi harus menunggu musim hujan. Pelaksanaannya musim hujan tahun ini, akhir tahun biasanya,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date