UN 2020, Disdikpora Tulungagung Tidak Ingin Bebani Siswa

Tulungagung, koranmemo.com – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Tulungagung tidak memberikan target pada siswanya dalam Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2019/2020. Meski ujian nasional tahun ini yang terakhir dilaksanakan, dinas enggan memberikan beban pada siswa kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Plt Kepala Disdikpora Tulungagung, Hariyo Dewanto mengaku belum menerima petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan ujian nasional 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).  Berkaca pada UN tahun 2019, pelaksanaan UN SMP/Mts dan sederajat dilakukan mulai tanggal 22 April.

“SD sudah tidak ada UN, kalau SMP tahun ini terkahir seperti yang dikatakan Pak Menteri. Kami masih menunggu juknisnya bagaiamana nanti,” ujar pria yang akrab disapa Yoyok di kantor Disdikpora Tulungagung, Kamis (9/1).

Meski ujian nasional terakhir, Disdikpora tidak memberikan intruksi khusus kepada setiap sekolah. Disdikpora juga tidak memberikan target muluk – muluk terkait hasil UN, mereka hanya meminta ujian nasional berbasis komputer itu berjalan lancar tanpa ada kendala. Terlebih sejak tahun lalu, UN bukan lagi menjadi syarat mutlak kelulusan siswa.

“Tidak ada target, kami tidak ingin membebani siswa. Hasil UN tidak mempengaruhi  kelulusan, hanya gengsi saja. Kami tidak ingin demi gengsi meraih hasil UN justru membuat siswa stres,” katanya.

Lebih lanjut, Yoyok mengatakan, siswa yang merasa masih tertinggal dalam beberapa mata pelajaran tetap diperbolehkan meminta jam tambahan, begitu juga pihak sekolah. Namun, jam tambahan itu diharapkan tidak mengganggu jadwal kegiatan belajar mengajar. “Silahkan jika ada jam tambahan, untuk bekal siswa saat masuk di SMA atau SMK tidak tertinggal dengan yang lainnya,” terangnya.

Seperti diketahui, UN tahun ini menjadi yang terakhir baik untuk SMP sederajat maupun SMA sederajat. Tahun ajaran 2020/2021 akan diganti dengan assessment yang dilakukan oleh masing – masing guru pelajaran.

“Untuk standar kelulusannya lebih rinci nanti seperti apa kami masih menunggu dari Kemendikbud. Apakah nanti siswa harus membuat paper, makalah, atau ujian dalam bentuk lainnya kami belum tahu secara pasti,” tandas Yoyok.

Reporter Zayyin multazam sukri
Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date