Trump Bantah Laporan Mengenai Rusia Danai Taliban

Share this :

Washington, koranmemo.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan, dirinya tidak mempercayai laporan yang menuduh Rusia telah mendanai Taliban. Pernyataannya itu didasari oleh laporan lembaga intelijen AS yang mengatakan, laporan yang dimuat dalam New York Times itu tidak memiliki sumber yang dapat dipercaya.

“Pihak intelijen baru saja melapor pada saya jika mereka tidak menemukan sumber yang dapat dipercaya dari informasi tersebut. Kemungkinan itu hanya sebuah berita bohong mengenai Rusia, mungkin New York Times hanya ingin membuat Partai Republik terlihat jelek dengan berita bohong tersebut,” tulis Trump di Twitter, Senin (29/6).

Melansir dari Reuters, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS, Nancy Pelosi juga tidak mengetahui laporan tersebut. Sehingga dirinya meminta untuk diberikan pengarahan terhadap kongres terkait masalah tersebut.

Dengan mengutip laporan dari New York Times dan penolakan yang dilakukan oleh Trump, dirinya merasa ada sesuatu yang salah dalam permasalahan ini. Dirinya juga menduga Trump telah mendukung Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk mengurangi kepemimpinan AS di NATO. Hal itu didasari oleh tindakan Trump yang mengurangi pasukan AS di Jerman dan mengundang Rusia kembali ke G8.

“Ada sesuatu yang sangat salah di sini dan ini harus memiliki jawaban,” kata Nancy Pelosi kepada ABC News.

Mantan Penasihat AS, John Bolton mengatakan, dirinya menduga ada banyak hal yang masih perlu dijelaskan terkait hal ini. “Sangat luar bias jika presiden mengatakan dirinya belum mendengar apa-apa terkait hal itu,” katanya.

Sebelumnya, laporan mengenai hal ini dimuat oleh New York Times pada hari Jumat (26/6) dan berita yang lebih lengkap dirilis pada Minggu (28/6). Menanggapi beritu itu, Pihak Rusia dan Taliban langsung bereaksi terhadap berita itu dan kompak membantah laporan tersebut.

Berita mengenai Rusia yang telah mendanai Taliban untuk membunuh pasukan AS dan sekutunya juga telah memicu polemik di negara sekutu AS, seperti Inggris. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dan pendahulunya, Theresa May menjadi salah satu yang diduga terlibat dalam permasalahan ini.

Mereka diduga tidak bersikap transparan terhadap pergerakan Rusia dia Taliban itu karena bertujuan mendukung Trump. Dugaan ini didasari oleh penerbitan laporan intelijen Inggris mengenai Rusia yang tidak diterbitkan segera pada bulan Oktober tahun 2019.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya