Trenggalek Menuju Sekolah Ramah Anak

Trenggalek, Koranmemo.com – Ratusan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah dasar (SD) di Trenggalek secara administratif tak sepenuhnya sudah ramah anak. Sedikitnya kurang dari 50 persen lembaga pendidikan di Trenggalek belum memenuhi kriteria dan belum mendapatkan surat keputusan (SK). Pemda kini tengah mewujudkan sekolah ramah anak secara menyeluruh.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Trenggalek, Eko Juniati menyebut, perwujudan sekolah ramah anak secara menyeluruh masih berproses. “Sebetulnya semua menuju sekolah ramah anak. Namun yang sudah ada SK-nya belum sepenuhnya, tapi lebih dari 50 persen sudah,” ujarnya.Untuk memenuhi kriteria sekolah ramah harus mencangkup aspek yang diprasyaratkan. Diantaranya mulai dari aspek psikologis, kurikulum pendidikan hingga kelengkapan sarana dan prasarana (sarpras) penunjang kegiatan belajar mengajar (KBM). “(Diantaranya) anti bullying, dari sarprasnya peduli tentang kebutuhan anak, banyak indikatornya,” kata Kepala SMPN 1 Gandusari, Sulis Riyani.

Saat ini, SMPN 1 Gandusari menjadi salah satu sekolah yang sudah mendapatkan predikat sekolah ramah anak yang dituangkan dalam bentuk SK. Komitmen itu berlangsung dalam deklarasi sekolah ramah anak yang dihadiri Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Trenggalek, Novita Hardini.

Istri Mas Ipin itu menegaskan jika sekolah bukan hanya berkutat pada akademisi, melainkan juga berperan menjaga psikologis anak. “Ingat, luka hati pada anak tidak akan pernah bisa disembuhkan sampai kapanpun, makanya perlu kita jaga betul mereka,” kata Novita. Untuk itu perlu komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, termasuk guru sebagai pengganti orang tua anak di sekolah.

Untuk menyeimbangkan itu, Novita menggalakkan sekolah ‘terbuka’, bertepatan dengan Peringatan Hari Anak Sedunia, Rabu (6/11). Ia menilai sekolah terbuka memiliki banyak manfaat meskipun ia tak memiliki kewenangan untuk memasukkannya ke kurikulum. “Tentunya tidak hanya membahas sekolah formal saja yang isinya bersifat akademik, tapi juga sekolah kehidupan,” imbuhnya.

Sekolah kehidupan yang dimaksud sekaligus mendorong terwujudnya sekolah ramah anak. Sebab terdapat keselarasan antara program yang digalakkan dengan pelaksana program tersebut. Hubungan timbal balik inilah diyakini menjadi salah kunci kehidupan yang harmonis. “Yang utama mereka harus mempunyai tempat yang nyaman,” kata Novita saat mengunjungi sekolah terbuka di SMPN I Gandusari dan SDN I Karanganyar.

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date