Tradisi Kupatan Massal dan Festival Balon Jadi Destinasi Wisata Tahunan

Trenggalek, koranmemo.com – Tradisi ketupat atau kupatan massal dan festival balon menjadi magnet baru untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Trenggalek. Bahkan dua tradisi yang kedepannya akan dipoles lebih semarak itu telah menjadi even destinasi wisata tahunan. Potensi untuk menarik wisatawan itu terlihat dari tingginya antusiasme warga lokal maupun luar daerah untuk menyaksikan dua event wisata tahunan tersebut.

Tradisi kupatan massal sudah berlangsung dari tahun ke tahun, utamanya di wilayah Desa Durenan. Tak heran jika kawasan itu selalu menjadi jujukan berbagai warga yang ingin menikmati sensasi menyantap ketupat gratis secara beramai-ramai. Tak hanya warga sekitar, beberapa warga di luar Kabupaten Trenggalek juga turut andil memeriahkan tradisi kupatan massal.

“Kalau berbicara wisata memang bukan hanya wisata alam saja. Wisata budaya juga cukup menjadi perhatian, misal tradisi kupatan massal. Begitu juga dengan festival balon, meskipun perdana namun sukses menyedot perhatian pengunjung,” kata pelaksana tugas (plt) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Sunyoto.

Agar dua even wisata tahun itu terus menggema, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek berencana membuatnya lebih semarak. Misalnya tradisi untuk kupatan massal ditargetkan mampu meraih rekor Muri atau Museum Rekor Dunia-Indonesia, entah dari segi jumlah pembuatan ketupat hingga besaran ketupat yang disajikan. Nantinya, Pemkab akan memberikan suport langsung meskipun tidak menyeluruh.

“Begitu juga dengan festival balon. Ini menjadi ‘jalan tengah’ seiring adanya aturan penerbangan balon secara liar, berbeda dengan dulu. Jadi disisi lain tradisi tetap terlestarikan, namun tidak sampai mengganggu lalu lintas udara. Karena kalau kita melihat, tradisi kupatan massal dan festival balon antusiasnya begitu tinggi, bahkan kupatan massal hampir menyebar di tiap kecamatan,” imbuhnya.

Selain digadang-gadang menjadi magnet baru destinasi wisata tahunan, diharapkan dua event wisata tahunan itu mampu mendongkrak perekonomian warga sekitar dari berbagai sisi bidang usaha. Secara tidak langsung, Sunyoto menilai meningkatnya wisatawan akan berimbas pada perputaran uang di tengah masyarakat.

“Seng dodol panganan yo payu (yang jualan makanan laku, red), kemudian jika nanti acaranya dibuat rangkaian juga tidak menutup kemungkinan berimbas pada penginapan home stay atau hotel, begitu juga jasa transportasi dan lain sebagainya. Apapun itu yang terpenting adalah bisa menggerakkan perekonomian warga, itu poin paling penting,” pungkasnya. (Adv)

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date