Terus Meluas, Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan di Trenggalek Diperpanjang

Trenggalek, Koranmemo.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek memutuskan memperpanjang masa tanggap darurat bencana kekeringan. Masa tanggap darurat bencana yang seharusnya berakhir pada 30 November 2019 di perpanjang hingga akhir tahun. Saat ini kekeringan terus meluas dan warga terdampak masih mendapat suplai air bersih.

Kepala BPBD Trenggalek, Djoko Rusianto mengatakan, jumlah kekeringan saat ini telah menyebar ke 60 desa dari 152 desa dan 5 kelurahan di 14 kecamatan. Bencana kekeringan tahun ini merupakan yang terparah sejak 5 tahun terakhir. “Memang paling parah sejak lima tahun terakhir,” ujarnya.

Kendati demikian terdapat beberapa perubahan di titik kekeringan. Secara kuantitas dan kualitas, lanjut Joko, kekeringan terus bertambah meskipun beberapa waktu lalu Trenggalek diguyur hujan sesaat di beberapa titik. Menurut laporan BMKG yang diterima, prakiraan hujan di Trenggalek terjadi pada dasarian 2 Desember. “Kami sudah cek lapangan dan perpanjangan surat tanggap darurat itu sudah ditandatangani Pak Bupati,” jelasnya.

Untuk mencukupi kebutuhan permintaan warga, BPBD Trenggalek saat ini telah menggunakan dana Biaya Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 1,2 miliar, pasca dana reguler khusus suplai air sebesar Rp 110 juta habis. Untuk saat ini dana BTT itu tersisa diatas Rp 500 juta. “Nanti kalau habis kami mengajukan lagi, soal dana tidak ada masalah,” imbuhnya.

Meskipun demikian, pihaknya sedikit terkendala armada operasional kendaraan seiring permintaan yang terus bertambah. Sebab 1 armada dari 4 armada BPBD Trenggalek belum dapat difungsikan setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Trenggalek-Ponorogo saat perjalanan mengirim air. “APBD induk 2020 kami ajukan 3 armada sehingga nanti ada 6 armada,” pungkasnya.

Selain dari BPBD Trenggalek, untuk memenuhi permintaan warga pengiriman air juga dilakukan oleh instansi lainnya, pihak swasta hingga kepolisian. Warga juga mendapatkan bantuan pusat berupa pengeboran sumber air bersih dari Kementerian ESDM dan program Pamsimas. Pemda juga tengah mengupayakan solusi pengentasan masalah krisis air bersih di musim kemarau dengan cara menanam tanaman bambu dan tadah air lainnya di daerah aliran sungai.

Reporter Angga Prasetiya
Editor Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date