Terparah Sejak Tahun 2000

Penjualan Mainan Kayu Terus Menurun

Kediri, Memo – Selama 2 bulan terakhir ini, perajin mainan kayu di Kota Kediri harus pintar-pintar mengatur pengeluaran.  Pasalnya, sejak Februari lalu, permintaan terhadap barang produksi mereka terus menurun.  Salah satu perajin mainan kayu di Kelurahan Semampir, Suhadi Idris, mengungkapkan, penurunan permintaan tahun ini adalah yang terparah sejak pertama kali dia mendirikan usaha ini, yakni tahun 2000.

Suhadi Idris tengah melakukan proses pengecatan kuda kayu di halaman belakang rumahnya (yudha/memo)
Suhadi Idris tengah melakukan proses pengecatan kuda kayu di halaman belakang rumahnya (yudha/memo)

Akibat dari penurunan permintaan, omzet yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk membeli bahan baku seperti kayu dan cat, terpaksa harus digunakan dulu untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.  “Kalau biasanya, meskipun belum ada pesanan, kita terus membuat agar sewaktu-waktu ada yang mau beli barangnya ada.  Tapi untuk bulan-bulan ini kita belum berani,” tutur Suhadi Idris.

Pria yang biasa disapa Idris ini mengungkapkan,  jika biasanya dalam 1 bulan minimal dia mendapatkan pesanan 100 mainan,   sejak Februari kemarin, paling banyak dia hanya mendapatkan 50 pesanan.  Hal ini tentu saja memberatkan baginya, mengingat bahan dan proses pembuatan mainan kayu ini tidak mudah.  “Untuk pembuatan mainan kayu ini saya selalu menggunakan bahan terbaik.  Mulai dari kayu hingga catnya.  Jadi kalau sepi begini, susah balik modalnya,” kata Idris.

Untuk mempertahankan usahanya, selama 2 bulan ini dia mengandalkan pesanan dari PAUD dan TK.  Dia tidak bisa menjualnya secara individu, karena sudah ada perjanjian dengan pemasarnya dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.  “Kalau mereka tahu dimana pembuatnya, biasanya pembeli cenderung langsung membeli dari si pembuat, karena lebih murah.  Kalau begitu kasihan pemasar saya,” tuturnya.

Harga yang diberikan untuk mainan kayu buatan Idris bervariasi.  Idris mengungkapkan, harga ini adalah harga yang sudah disesuaikan dengan kemampuan pasar sekarang ini.  Misal untuk kuda kayu ukuran mini, Idris menjualnya dengan harga Rp 100 ribu.  Untuk kuda kayu ukuran kecil, Rp 125 ribu, ukuran sedang Rp 150 ribu, dan ukuran besar Rp 175 ribu.

Meskipun jumlah permintaan semakin menurun, Idris tidak ada niat untuk menaikkan harga produknya untuk menutup kekuarangan.  “Biasanya kan ada karena sedang sepi, harganya dinaikkan.  Tapi saya tidak mau begitu.  Lagipula biasanya penurunan permintaan seperti ini memang selalu terjadi di bulan-bulan awal.  Nanti menjelang lebaran dan awal tahun ajaran baru, biasanya meningkat lagi,” kata Idris.  (ela)

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date