Terapi Boneka Diyakini Bisa Sembuhkan Luka Hati Anak Yang Mendalam

Sidoarjo, koranmemo.com – Terapi Boneka (Stuffed Animal Therapy) merupakan salah satu cara untuk mengobati luka hati yang dalam. Biasanya, hal tersebut sering dialami anak- anak ketika mengalami trauma.

PT Santos Jaya Abadi mengajak ribuan karyawannya untuk peduli terhadap korban bencana gempa dan Tsunawi di Kota Palu, Donggala dan Sigi Provinsi Sulawesi Tenggara.

Perhatian itu terutama untuk korban anak-anak yang perlu penanganan khusus dalam mengembalikan psikologi ribuan anak-anak yang ada di ketiga daerah tersebut.

Pihak menejemen pabrik produksi kopi merk Kapal Api mengajak para karyawannya untuk menyumbang bonek yang diperuntukkan anak-anak korban gempa dan tsunami di Sulteng tersebut.

Direktur PT Santos Jaya Abadi Paulus Imanuel Nugroho mengatakan, untuk sumbangan yang akan diberikan ke anak-anak korban gempa dan tsunami adalah boneka.

Studi membuktikan salah satu cara untuk mengobati luka dalam psikologi anak-anak adalah dengan Therapy Boneka (Stuffed Animal Therapy).

“Anak-anak butuh pemulihan psikologi yang dialaminya. Mereka banyak yang trauma menghadapi musibah bencana alam tersebut,” katanya Selasa (13/11/2018).

Rasa kekecewaan dan luka hati selalu datang dalam kehidupan setiap manusia di segala usia. Apalagi dalam menghadapi atau melihat kejadian gempa dan tsunami seperti yang terjadi di Sulteng.

Luka hati dalam usia anak-anak yang membusuk, dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak sempurna di beberapa aspek kehidupan sosial. “Kondisi psikologi anak-anak harus dikembalikan sampai pulih,” tutur Paulus.

Selain itu, tambahnya, boneka-boneka tersebut dapat dibawa kemanapun, yang melambangkan bahwa selalu ada yang akan bersamanya di keadaan apapun, bahwa akan selalu ada yang melindunginya.

“Terutama boneka yang tekstur halus dan empuk. Karena bisa memberikan rasa nyaman bagi pemiliknya,” sambungnya

Anak-anak lebih memilih boneka dibanding mainan yang ‘keras’. Dari rasa nyaman inilah proses pengobatan dapat dimulai. Dengan membiarkan pasien merawat bonekanya dengan cara sebagaimana mereka mau dirawat.

“Dengan boneka itu, secara tidak langsung memasukkan afirmasi ke alam bawah sadar mereka tentang bagaimana mereka semestinya diperlakukan. Setelah alam bawah sadarnya terbiasa dengan afirmasi tersebut, mereka akan mulai melihat kesempatan untuk dapat merawat dirinya seperti ia merawat boneka tersebut,” jelas Paulus.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date