Temukan Dolar Amerika di Alamari, Remaja Dijebloskan Bui

Share this :

Sidoarjo, koranmemo.com – MCI hanya bisa menyesal. Remaja yang belum genap 17 tahun itu tidak pernah mengira bakal berurusan dengan polisi. Gara-gara salah perkiraan, dia terancam lama mendekam di dalam bui.

Masalah yang membelitnya berawal sekitar tiga bulan lalu. MCI saat itu sedang bersih-bersih rumah. Nah, di dalam lemari almarhum ayahnya dia menemukan 16 lembar uang kertas pecahan 100 dolar Amerika. Uang itu terselip di tumpukan baju.

Warga Desa Wonocolo, Taman, itu kontan saja girang. Dia mengambil satu lembar. Lalu menukarkannya ke sebuah penginapan di Jalan Raya Letjend Sutoyo, Waru. “Dalihnya untuk uang jajan,” ujar Kanitreskrim Polsek Waru Iptu Untoro kemarin (6/9).

MCI mendapat uang rupiah cukup lumayan. Jumlahnya sekitar Rp 14 juta. Uang itu dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan. Juga, membeli laptop.

Belakangan diketahui uang yang ditukarkannya bermasalah. Djedi, pemilik penginapan tertipu. Lelaki 61 tahun itu baru sadar uang yang diterima palsu saat menukarkannya ke bank.

Djedi pun memelototi kamera CCTV. Dia mengingat ciri-ciri pelaku. Eh, Selasa (4/9) pemuda yang menukarkan upal itu kembali. MCI kali ini membawa lebih banyak lembaran. “16 lembar uang kertas, pecahan yang sama dengan sebelumnya,” ucap polisi dengan dua balok di pundak itu.

Korban, kata dia, kontan saja geram. Djedi langsung mengamankan pelaku. Dia juga memanggil polisi agar MCI diproses hukum.

MCI mengaku bukan bagian dari jaringan peredaran upal. Dia bergeming uang yang ditukarkannya adalah peninggalan orang tua. Bapaknya meninggal sekitar setahun lalu.

Untoro menyatakan, pengakuan itu tidak lantas ditelan mentah-mentah. Dia tetap akan menelusuri asal usul upal. “Masih dikembangkan. Bapaknya memang sudah meninggal,” katanya.

Mantan Kanitreskrim Polsek Gedangan itu menambahkan, perbuatan pelaku sudah memenuhi unsur pidana. Walaupun berkilah tidak tahu, MCI tetap bisa dijerat pasal tentang peredaran upal. “Hukuman maksimalnya bisa 15 tahun,” terangnya.

Untoro mengatakan, pihaknya bakal melibatkan Balai Pemasyarakatan Kelas I Surabaya untuk memproses pelaku. Sebab, usianya masih di bawah umur. “Undang-undang yang dipakai khusus karena tersangkanya anak,” ungkapnya.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date