Teknik Tanam Padi Jarwo, Maksimalkan Panen dengan Lahan Terbatas

Kediri, koranmemo.com – Upaya peningkatan hasil panen dengan lahan pertanian yang berada di daerah perkotaan, menjadi masalah bagi petani dan pemerintah kota khususnya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri. Kombinasi antara teknik tanam padi Jajar Legowo (Jarwo) dan penggunaan Agens Hayati dipilih untuk memaksimalkan hasil panen dengan lahan yang terbatas. Untuk mempertahankan produktifitas, pihak DKKP mempertahankan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 1000 hektare dari 2000 hektare lahan yang ada sekarang ini.

Dengan cara mengkombinasikan antara teknik tanam jarwo dan penggunaan agens hayati, dinilai mampu meningkatkan hasil panen petani di Kota Kediri. Teknik tanam jarwo berbeda dengan teknik tanam petak, perbedaan jarak dan bibit yang ditanam menjadi pembeda antara sua teknik tersebut. Teknik jarwo menggunakan 2 sampai 3 bibit tanaman padi dengan perbandingan jarak dua banding satu dan tiga banding satu.

“Teknik petak antara tiap tanaman jaraknya sama, 20 centimeter. Namun jika menggunakan teknik jarwo, dua sampai tiga baris tanaman ada jarak antara 30 centimeter sampai 40 centimeter. Teknik ini harus didukung dengan penggunaan agen hayati untuk memaksimalkan hasil panen para petani padi,” jelas Ita Sachariani, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan DKPP Kota Kediri, Selasa (31/7).

Dikatakan, jarak yang teratur dan tidak terlalu berdekatan sehingga cahaya matahari bisa masuk di sela – sela tanaman.

Selain teknik tanam jarwo, harus didukung dengan penggunaan agens hayati untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman padi sehingga hasil panen semakin bertambah. Ada empat jenis agens hayati yang dikembangkan oleh DKKP dan petani di Kota Kediri seperti Coryne, pseudomanad fluorescent (PF), jamur lekani dan beauveria bassiana. PF digunakan sebagai penambah daya tahan tanaman dan sebagai vitamin sehingga tanaman mampu tumbuh maksimal.

“Petani sudah bisa membuat sendiri dengan bahan dasar kentang dan kacang kedelai. Sama – sama diambil air rebusan, tapi untuk kentang diberi isolat lecanicillium lecanii, pseudomanad fluorescent, dan beauveria bassiana. Sedangkan air rebusan kedelai ditambah isolate beauveria bassiana,” sahut Yuli ardianti, Tim Pos Pengembangan Agen Hayati.

Menurut Semeru Singgih, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kota Kediri, jumlah hasil panen tanaman padi tahun ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2017. Karena pelaksanaan teknik tanam jarwo dan penggunaan agens hayati baru berjalan selama satu tahun ini.

“Kita akan pertahankan LP2B seluas 1000 hektare, 500 hektare milik pemerintah kota dan 500 hektar kumpulan dari beberapa lahan milik petani. Meskipun baru berjalalan selama satu tahun, namun sudah ada peningkatan hasil panen. Tahun lalu rata – rata satu hektare lahan menghasilkan 5,8 ton sampai 6.7 ton, tahun ini rata – rata panen dari 1 hektare lahan bisa mencapai 7 ton sampai 8 ton,” ujarnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date