Tantangan Pembelajaran Daring, Penilaian Bukan Hanya dari Hasil Akhir

Share this :

Kediri, koranmemo.com – Tantangan pembelajaran melalui sistem dalam jaringan (daring) beberapa bulan terakhir mulai jenjang PAUD sampai SMA yang dihadapi guru adalah bagaimana proses siswa dapat memahami materi. Dalam proses pembelajaran, bukan hanya hasil akhir yang menjadi penilaian, namun bagaimana siswa mampu melaksanakan dan memahami materi yang disampaikan oleh guru.

Dosen Psikolog Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Novi Wahyu Winastuti menjelaskan, dalam proses pembelajaran terutama siswa jenjang PAUD dan SD sederajat, tantangan tidak hanya dihadapi oleh orang tua, tapi juga guru. Terlebih lagi, tugas yang diberikan apakah dikerjakan sendiri oleh siswa atau dibantu oleh orang lain.

Misalnya, kata Novi, saat kemauan siswa untuk belajar berkurang, secara tidak langsung orang tua akan tergerak membantu siswa mengerjakan tugas-tugas dari guru. “Ibaratnya seperti PR, kalau terlalu banyak dan motivasi siswa berkurang sehingga siswa mogok, beberapa orang tua akan membantu siswa mengerjakan tugasnya. Walaupun tidak semua, tapi pasti ada,” jelasnya, Rabu (29/7).

Dengan demikian, guru akan kesulitan mengevaluasi bagaimana siswa menjalani setiap proses pembelajaran. Mengingat, penilaian guru tidak hanya diambil dari tugas akhir, melainkan melalui evaluasi setiap proses pembelajaran siswa. “Selain evaluasinya sulit, monitoring juga sulit. Karena target-target belajar yang sudah dijadwalkan akan dilonggarkan menyesuaikan orang tua siswa,” imbuhnya.

Pasalnya saat di sekolah, guru dapat mengawasi dan menilai kemandirian siswa. Namun saat di rumah, pengawasan dari guru menjadi tidak efektif. “Ini masalah persepsi. Bisa saja saat di rumah, mereka menjadi lebih manja dan bergantung dengan bantuan orang tua,” katanya.

Menurut Novi, dengan adanya kegiatan belajar mengajar (KBM) daring dan motivasi siswa kurang, belum tentu siswa menyelesaikan jadwal pelajaran tepat waktu. Ada kemungkinan seharusnya siswa belajar pada jam-jam tertentu, tapi kenyataannya siswa tidak belajar dan mengerjakan kegiatan lain di luar jadwal pembelajaran.

Meskipun guru memberikan tugas melalui orang tua, tapi belum tentu orang tua dapat mendampingi siswa. “Seharusnya orang tua bisa mendampingi, tapi kesibukan orang tua juga berpengaruh. Misalnya, orang tua ada waktu di malam hari, namun siswa sudah merasa letih karena ada kegiatan lain yang dilakukan di siang hari. Apalagi siswa di rumah, siang harinya mereka bermain dan malam hari tinggal capeknya,” tuturnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor : Della Cahaya