Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Pesisir Pantai Trenggalek Untuk Cegah Abrasi

Trenggalek, Koranmemo.com – Sebanyak 1000 bibit pohon mangrove ditanam sepanjang pesisir Pantai Konang Trenggalek, Selasa (5/11). Penanaman mangrove yang dilakukan Forkopimda Trenggalek bersama pelajar dan kelompok masyarakat itu bertujuan untuk mencegah abrasi atau pengikisan daratan pinggir laut. Kegiatan ini merupakan bagian Pembinaan Teritorial (Binter) yang diinisiasi Kodim 0806 Trenggalek.

Komandan Kodim (Dandim) 0806 Trenggalek, Letkol Inf Dodik Novianto mengatakan, penanaman ribuan mangrove di hutan bakau sekitar Kali Ketos Desa Nglebeng Kecamatan Panggul itu untuk melestarikan ekosistem. “Mangrove ini sebagai stabilitas penjaga alam. Tanpa mangrove akan terjadi abrasi sehingga luasan daratan semakin sempit dan kondisi daratan lebih rendah daripada laut,” jelasnya.

Keberadaan mangrove itu, lanjut Dandim sebagai pertahanan pertama di pesisir laut. Untuk itu, ia berharap masyarakat bersama pemerintah turut andil menjaga kelestarian alam. “Kegiatan ini kami tujukan untuk mengembalikan ekosistem terutama di kawasan pesisir. Karena hutan mangrove yang sehat merupakan garda pertahanan yang pertama,” pungkasnya.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menyebut, penanaman mangrove ini selaras dengan cita-cita Trenggalek ‘Meroket’. Selain menggenjot kemajuan di berbagai sektor, keberlangsungan ekosistemnya tidak terabaikan. “Akan menjadi percuma bilamana ekonomi kita maju namun banjir ada di mana-mana,” kata Mas Ipin.

Kecamatan Panggul menjadi salah satu daerah rawan terjadi banjir. Hal ini dikarenakan posisi daratan yang lebih rendah ketimbang lautan. Mas Ipin ingin bencana banjir yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi yang terakhir. “Masih ingat dibenak kita banjir bandang yang melanda Panggul beberapa waktu lalu. Hal ini disebabkan posisi daratan yang lebih rendah dengan laut,” imbuhnya.

Mas Ipin mengapresiasi kepedulian masyarakat Panggul dalam menjaga kelestarian alam. Ia berharap kesadaran ini terus ditingkatkan dan tidak menemui lagi adanya warga yang membuang sampah sembarang. Karena sampah menjadi salah satu pemicu banjir. “Bila hujan warna sungai menjadi cokelat. Ini menandakan di area perbukitan terjadi pengikisan tanah, sehingga kita perkuat dengan terus menggalakkan penanaman pohon. Mari kita berbenah dengan menjaga kelestarian alam,” pungkasnya. (adv/humas)

Reporter Angga Prasetiya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date