Tambah 41 Pasien, Positif Covid-19 di Tulungagung Menjadi 138 Orang

Share this :

Tulungagung, Koranmemo.com – Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Tulungagung bertambah 41 orang. Hingga Senin (15) malam, warga Tulungagung yang terkonfirmasi positif pandemi tersebut mencapai 138 orang. Sebanyak 56 pasien positif Covid-19 dinyatakan sembuh. Warga diminta untuk tetap mematuhi protokoler kesehatan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tulungagung, dr Kasil Rokmat mengatakan, bertambahnya kasus konfirmasi positif itu membuat seluruh kecamatan di Tulungagung masuk zona merah. “Kecuali Kecamatan Pucanglaban yang masih (zona) kuning,” ujarnya dalam konferensi pers di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung.

Dia menyebut, bertambahnya pasien positif itu mayoritas merupakan kenaikan status dari beberapa orang dengan risiko (ODR), orang sehat tanpa gejala (OTG) hingga pasien dalam pengawasan (PDP). “Gambaran penambahan kasus berdasarkan asal klasifikasi tujuh ODR, tujuh OTG dan 27 PDP,” imbuhnya.

Kecamatan Bandung menduduki peringkat pertama kasus tambahan konfirmasi positif tertinggi yakni sebanyak 12 orang dari 41 tambahan kasus per 15 Juni 2020.

Masyarakat diminta untuk waspada dan menaati protokoler kesehatan yang telah ditentukan. Sebab pola penularan yang semula klastering saat ini merambah pola propagated. “Sebagian besar kelompok ini adalah OTG yang tidak memiliki tanda berupa gejala yang pasti sehingga sulit terdeteksi. Apabila pola ini terus berlangsung, maka akan muncul kasus secara sporadis,” kata Kasil.

Meskipun demikian, tingginya angka konfirmasi positif pasien covid dinilai selaras dengan angka kesembuhan pasien. Sebanyak 56 pasien yang sembuh itu merupakan pasien Covid-19 dari beberapa kluster. Mulai kluster pabrik rokok hingga kluster tahlilan. “Angka kesembuhan memiliki presentasi 41 persen. Diharapkan angka ini terus bertambah seiring penanganan yang cepat dan tepat,” ujarnya.

Kasil menyebut, tambahan sebanyak 41 pasien konfirmasi positif itu merupakan hasil swab test di Rumah Sakit dr Iskak Tulungagung. Diakuinya, terdapat perubahan tingginya potensi konfirmasi positif ketimbang tes yang dilakukan sebelumnya atau di luar Tulungagung. Tingginya potensi itu terkait jeda waktu sampel yang diperiksakan.

“Misal di swab, kemudian nunggu sehari (untuk di kirim). Di sana antre bisa sampai delapan hari, kemungkinan sampel rusak sehingga potensi negatifnya tinggi. Sementara setelah di swab sendiri (di rumah sakit daerah) itu tinggi, kemungkinan (sampel) masih fresh,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya
Editor Achmad Saichu