Tak Terima Anak Dicubit, Lapor Polisi

Share this :

Blitar, koranmemo.com –  Dugaan kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini, kejadian tersebut berlangsung di SDN Bendo 01 Desa Bendo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Karyanto (38) orang tua siswa di sekolah itu menempuh jalur hukum lantaran menganggap guru menyalahi prosedur dan menggunakan kekerasan dalam mengajar. “Anak saya dicubit gurunya sampai mengalami luka lebam di tangannya, apa tidak ada cara yang lain selain menggunakan kekerasan,”papar Karyanto saat dikonfimasi Koran Memo, Selasa (18/10).

Informasi yang dihimpun Koran Memo, kejadian itu bermula ketika Farel (9) anak Karyanto mengikuti pelajaran keterampilan. Menurut Karyanto, anaknya diajak bergurau oleh temannya. Tapi karena tidak menanggapi, kedua siswa itu terlibat adu mulut. Melihat hal itu, Iwan, guru keterampilan mencubit anaknya sebanyak dua kali karena dianggap mengganggu pelajaran. “Saya dihampiri Pak Iwan dan dicubit sebanyak dua kali,”ungkap Karyanto menirukan ucapan anaknya.

Tak disangka perbuatan yang dilakukan guru GTT tersebut berbuntut panjang. Tri Ervi (33) yang merupakan ibu korban baru menyadari kejadian yang dialami putranya ketika anaknya mengeluh sakit di bagian lengannya. Mengetahui apa yang dialami anaknya, ibu tiga anak tersebut sempat naik pitam. Kemudian Ervi mengadukan kejadian tersebut kepada suaminya. Sebelumnya, Ervi terlebih dahulu memfoto luka anaknya dan mengunggah di sebuah media sosial pada Senin malam. “Saya justru baru tahu setelah dikasih tahu isteri saya. Bapak mana yang terima anaknya diperlakukan seperti itu,” kata dia.

Selanjutnya, Selasa (18/10) pukul 07.30 WIB Karyanto mendatangi pihak sekolah untuk mengklarifikasi masalah itu. Setelah diadakan mediasi antara kepala sekolah, wali murid, dan oknum guru bersangkutan sepakat jika masalah tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. “Sayapun justru terima kasih pihak sekolah sudah mendidik anak saya dengan baik. Saya juga sudah legowo dan menyadari kekhilafan yang dilakukan oknum guru tersebut. Baik sekolah maupun guru yang bersangkutan sudah meminta maaf, dan kami sepakat untuk menempuh secara kekeluargaan,”ungkap pria yang tinggal di RT 04/RW 01 Desa Bendo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar itu.

Namun usai pulang ke rumah, Karyanto mendapatkan aduan dari isterinya yang menyebutkan jika foto luka yang diunggahnya tersebut mendapatkan komentar yang menurut Karyanto sangat menyinggung dirinya. “Akun salah satu guru disekolah tersebut mengomentari yang isinya mengatakan mengklarifikasi boleh asalkan mengetahui dasar hukumnya,” kata Karyanto membacakan isi akun tersebut pada Koran Memo.

Karyanto yang merasa tersindir dengan akun tersebut kembali naik pitam. Kali ini, Karyanto sudah jengkel dan bertekad bulat untuk menempuh jalur hukum. Pantauan Koran Memo, Selasa (18/10) sekitar pukul 11.00 WIB Karyanto kembali mendatangi pihak sekolah dan berniat untuk menempuh jalur hukum.

Hal itu membuat Nuruddin, Kepala SDN Bendo 01 kaget. Kemudian terjadilah mediasi untuk yang kedua kalinya. Yuli Sulistyono pemilik akun tersebut sudah meminta maaf kepada Karyanto. Namun lantaran jengkel, Karyanto tetap bersikeras memilih jalur hukum dengan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Blitar Kota. ” Padahal kami sudah berusaha menyelesaikan perkara tersebut secara kekeluargaan. Namun lantaran ulah oknum guru pemilik akun tersebut membuat saya jengkel. Saya memang tidak paham betul soal hukum, kalau begitu saya pasrahkan saja pada ahlinya, biar nanti pihak yang berwenang yang menindaklanjuti,”ucap Karyanto di hadapan kepala sekolah dan oknum guru pemilik akun tersebut.

Sementara Nuruddin, Kepala Sekolah saat di Konfirmasi Koran Memo mengatakan sangat menyayangkan ulah yang dilakukan oknum guru pemilik akun tersebut. Kepala Sekolah tersebut mengatakan tak tahu menahu soal komentar yang dilakukan oknum guru tersebut. “Terus terang saya sangat menyayangkan terkait insiden ini. Padahal tadi pagi saya sudah meminta maaf terkait hal ini dan bersedia diselesaikan secara kekeluargaan. Kami akan lebih ketat lagi dan melarang guru untuk menggunakan media sosial di jam sekolah. Kemudian guru yang bersangkutan akan diberikan sanksi dari pihak sekolah seperti menonaktifkan masuk kelas bagi kedua guru tersebut.”ungkapnya.

Terpisah Muhajirin, Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar mengatakan akan menindaklanjuti dengan memanggil Kepala UPTD dan kepala sekolah yang bersangkutan untuk dimintai keterangan. Selain itu pihaknya juga akan melakukan upaya pembinaan moral kepada oknum guru yang bersangkutan tersebut. “Kami sudah berkoordinasi dengan kepala UPTD dan kepala SD yang berkaitan untuk dilakukan pembinaan,”pungkasnya.(ase)

 

Follow Untuk Berita Up to Date