Tak Hanya Menyimpan Barang Namun Juga Kisahnya

Kisah Kolektor Barang Antik

 

Menjadi kolektor barang antik bukanlah hal yang mudah.  Mereka harus rela mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk barang-barang yang bahkan sudah tidak bisa lagi digunakan.  Belum lagi jika mereka harus hunting hingga luar kota, masuk dari pasar ke pasar demi satu barang yang sudah lama mereka incar.  Apa yang membuat mereka mau melakukan itu?  Sultan Akbar Sidqi, pemilik sebuah vintage store di Kota Kediri membagikan ceritanya.

Dari luar, bangunan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Ngronggo ini hanya terlihat seperti rumah biasa dengan halaman yang cukup luas.  Satu hal yang mencolok dari rumah itu adalah kotak pos warna merah yang dipasang di gerbang masuk rumah itu.  Namun begitu masuk ke dalamnya, pemandangan yang pertama terlihat adalah satu ruangan penuh dengan barang-barang yang tidak akan pernah dijumpai lagi di toko-toko modern.

Mulai dari papan iklan Ajinomoto, Jamu Jago dan Nyonya Menir, motor Sparta, telepon umum, kamera-kamera tua, hingga becak tua.  Semuanya tertata rapi menyambut pengunjung yang datang ke sana.  Belum lagi barang-barang yang terpajang rapi etalase ruangan tersebut.  Ada pin dari berbagai negara hingga pisau dan korek api tua.  Barang-barang itu adalah milik Sultan Akbar Sidqi, pemilik bangunan tersebut.  Dia mengaku mulai mengumpulkan barang-barang antik itu sejak tahun 2009 silam.

Setiap benda memiliki cerita dan sejarahnya masing-masing.  Demikian jawaban Sultan ketika ditanya apa alasan dia rela berkorban uang, waktu, dan tenaga untuk memperoleh barang-barang antik yang menjadi koleksinya sekarang.   Ketika dia mendapatkan satu barang, dia tidak hanya menyimpan barang itu, namun kisah dari benda tersebut.  Bahkan jika dia beruntung bertemu dengan pemilik asli benda itu, dia juga bisa menyimpan kenangan pemiliknya.  “Hal itu merupakan kepuasan dan kesenangan tersendiri bagi saya.  Menyimpan kenangan dari sebuah benda,” ujar Sultan.

Seperti contohnya adalah lembaran-lembaran majalah fashion tahun 60-an milik seorang wanita pemilik toko mainan di Jalan Dhoho.  Dia mendapatkan barang tersebut dengan tidak sengaja.  Satu hari, dia lewat di depan toko mainan milik wanita itu.  Dilihat dari kondisi tokonya yang terlihat kuno, hatinya tergerak untuk berhenti dan mampir di toko tersebut untuk melihat-lihat.

Masuk ke dalam toko, Sultan berpura-pura mencari bolpoin sambil melihat-lihat toko tersebut.  Kemudian matanya terhenti pada satu majalah fashion yang terlihat sudah sangat tua.  Kertasnya berwarna cokelat dan sampulnya belum seperti majalah sekarang yang sudah menggunakan kertas tebal.  Yang lebih menarik, di sampulnya tertulis ‘New York Fashion in 1961’.

Sultan pun kemudian mengajak wanita pemilik toko, yang ternyata adalah keturunan  Tionghoa itu mengobrol.  Awalnya mengobrol biasa, namun lama-kelamaan wanita itu mulai berkisah tentang hidupnya.  Sultan jadi tahu, jika wanita berusia 80 tahun itu di tahun 60-an sampai 80-an ternyata adalah seorang penjahit terkenal.  Majalah fashion yang dia lihat adalah majalah keluaran luar negeri yang menjadi sumber inspirasinya.

Ketika pamit pulang, tak hanya mendapat majalah-majalah yang dia mau, Sultan juga diberi pola-pola pakaian yang wanita itu pernah buat dulu.  “Dan istimewanya,   pada setiap pola itu ada tanda tangan dan tahun pembuatannya.  Hari itu saya pulang tidak hanya membawa barang berharga, namun juga cerita yang berharga.  Sampai sekarang pun saya juga masih menjalin komunikasi yang baik dengan ibu itu,” ujar pria kelahiran 17 Oktober 1990 itu.

Apa yang Sultan dapat dari wanita pemilik toko itu hanya satu dari sekian banyak kisah-kisah lain yang sudah dia dengar.  Jika saat ini koleksinya sudah lebih dari 300 barang, berarti sudah sebanyak itu pula kisah yang dia tahu dan dia simpan.  “Bukan hanya kisah tentang barang itu saja.  Kisah saya sendiri juga ketika mengumpulkan barang itu,” kata Sultan.

Banyak cara yang Sultan lakukan untuk mengumpulkan koleksinya.  Ada yang dengan hunting dari pasar ke pasar, ada yang dari toko online, ada yang dengan cara mencari dari rumah ke rumah, atau barter dengan sesama kolektor.  Karena dia tahu betapa susahnya mengumpulkan barang-barang antik, dia pun kemudian berinisiatif untuk membuka sebuah kedai khusus barang-barang antik.

Di kedai yang dia beri nama Seeker alias pencari itu, pengunjung tidak hanya bisa bersantai sambil ngopi, namun juga bisa melakukan transaksi jual beli barang antik.  “Jadi tidak terbatas hanya menjual, saya pun juga membeli.  Kalau ternyata saya tidak tertarik, bisa dititipkan di toko.  Kalau laku, saya cukup diberi komisi,” ujar pria yang juga menyukai dunia fotografi ini sambil tertawa.

Dengan adanya toko yang baru berumur dua bulan ini, Sultan berharap dia akan bertemu dengan banyak kolektor barang antik dari Kediri.  Dia juga ingin menularkan hobinya ini kepada para pengunjung kafenya yang mungkin masih awam atau tidak tertarik dengan barang-barang antik.  “Tapi saya rasa, barang antik sekarang juga sudah bisa dibilang menjadi tren untuk mendekorasi rumah,” tutur Sultan. (della cahaya)

 

Follow Untuk Berita Up to Date