Masalah Tak Kunjung Usai, Warga Justru Tak Hadir Saat Audiensi Dengan Dinas PU

Share this :

Tulungagung, koranmemo.com –¬†Permasalahan antara warga sekitar instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT) di Desa Moyoketen Kecamatan Boyolangu dengan pelaku usaha sedot tinja masih belum mendapatkan titik temu, walaupun masalah ini sudah muncul sejak 2 tahun lalu.

Ketidakhadiran warga sekitar IPLT pada audiensi dengan Dinas PU dan pelaku usaha sedot tinja, Jumat (16/10) juga menjadikan pencarian solusi untuk masalah ini terhambat.

Permasalahan dipicu karena warga sekitar memiliki usaha Agrowisata Blimbing. Adanya IPLT dirasa mengganggu pengunjung Agrowisata. Akibatnya, warga sekitar IPLT menolak kehadiran mobil pengangkut tinja untuk memanfaatkan IPLT.

Kepala UPT IPLT Wijang Brahmantoro mengaku, sebenarnya dalam pertemuan kali ini, pihaknya mengundang perangkat desa Moyoketen, pengusaha sedot tinja, serta warga dekat lokasi IPLT.

Namun pada kenyataannya, hanya perwakilan dari pengusaha sedot tinja yang hadir pada pertemuan. Menurutnya, tujuan utama pihaknya untuk mempertemukan warga dengan pengusaha sedot tinja bertujuan agar bisa mencari solusi terbaik atas permasalahan yang sudah berlangsung selama dua tahun ini.

“Undangan saya bikin untuk dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun sayangnya hingga pukul 10.00 WIB perwakilan warga sama sekali tidak ada yang hadir,” jelas Wijang, Jumat (16/10).

Baca Juga: Proyek Padat Karya Dinas PU Kota Kediri Pekerjakan 3.750 Warga Terdampak Covid-19

Lebih lanjut, Wijang mengatakan, sebenarnya Kades Moyoketen sempat menemui dirinya secara personal sebelum acara dimulai. Dalam pertemuan itu, Kades hanya menyampaikan aspirasi dari warganya terkait menolak dioperasikannya kembali IPLT.

“Sebenarnya saya sudah sampaikan ke Kades agar warga sana mau beraudiensi. Karena kita butuh solusi terbaik biar sama-sama jalan, karena dari warga sana ada kepentingan untuk usaha agrowisata yang berdekatan dengan IPLT. Tapikan kita juga memiliki kewajiban di pemerintahan untuk mengelola tinja itu,” imbuhnya.

Wijang mengatakan, jika warga mau hadir dalam pertemuan, dirinya ingin menawarkan solusi kepada warga. Karena warga menganggap adanya IPLT mengganggu agrowisata milik warga, pihaknya memiliki rencana agar tidak mengoperasionalkan IPLT pada saat agrowisata warga dibuka.

“Agrowisata mereka kan tidak setiap hari buka. Cuma hari sabtu sama minggu, itupun sabtu tidak terlalu ramai. Saya siap kok kalau hari Sabtu atau Minggu tidak mengoperasionalkan IPLT. Asal itu bisa menjadi win win solution,” ujarnya.

Baca Juga: Dinas PUPR Lakukan Pensertifikatan Ruas Jalan Kabupaten

Sementara itu, Koordinator Pengusaha Sedot Tinja, Topo M menyayangkan ketidakhadiran warga sekitar pada pertemuan kali ini. Ketidakhadiran warga ini menurutnya menjadikan kedua belah pihak yang berselisih jadi tidak bisa berbicara secara terbuka. Menurut Topo, disaat seperti ini seharusnya kedua belah pihak tetap bisa berjalan beriringan dengan menemukan solusi terbaik, sehingga tidak ada salah satu pihak yang dirugikan.

“Kalau mereka (Warga Moyoketen) sebenarnyakan yang dipermasalahkan baunya, padahal sebenarnya limbah tinja itu sudah tidak terlalu bau,” jelas Topo.

Topo menjelaskan bahwa selama ini pihaknya sering mendapat ancaman dari warga sekitar IPLT saat hendak membuang limbah tinja ke IPLT. Hal itu membuat dirinya maupun pengusaha sedot tinja yang lain juga tidak berani untuk memanfaatkan IPLT milik pemerintah.

Baca Juga: Hamili Pelajar Hingga Melahirkan, Pemain Reog Ponorogo Dibekuk

Akibatnya, pihaknya dengan terpaksa membuat tempat pembuangan limbah sendiri serta menawarkan limbah tinja untuk dijadikan pupuk pada sektor pertanian.

“Orderan tetap ada meski tidak bisa buang, kadang kita cari pemilik sawah barangkali butuh pupuk, tapi itukan sifatnya temporer,” jelasnya.

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Della Cahaya