Tahun 2019, Kekerasan Terhadap Perempuan  di Jombang Meningkat

Share this :

Jombang, koranmemo.com – Sejumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di kota santri kian lama semakin meningkat. Tercatat dari Women Crisis Center (WCC) Kabupaten Jombang pada diskusi yang bertajuk Catatan Akhir Tahun (CATAHU) 2019, dalam kurun waktu satu tahun ini telah menerima 82 pengaduan kasus tersebut, dibandingkan tahun 2018 sebanyak 80 kasus yang dilaporkan.

Dari data yang diterima koranmemo.com, pada tahun 2017 WCC ini hanya menangani 60 kasus, namun peningkatan telah terjadi di tahun 2018 ada 80 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Namun, situasi penanganan ini mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya meskipun di sepanjang tahun 2019, WCC hanya meningkat 2 kasus.Menurut Palupi Pusporini, Direktur Women Crisis Center (WCC) Jombang, dari jumlah 82 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani WCC diantaranya, 39 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), masing-masing 3 kasus kekerasan terhadap anak (KTA), dan 36 kasus kekerasan terhadap istri (KTI).

“Sementara lainnya dari 43 kasus kekerasan seksual diantaranya, 19 kasus perkosaan, 7 kasus pelecehan seksual dan 17 kasus kekerasan dalam pacaran. Dalam proses penanganan kasus kekerasan ini, perempuan kerap menghadapi kendala mulai tingkat penyidik sampai proses pemeriksaan di pengadilan,” ungkapnya usai acara CATAHU 2019 di sebuah caffee shop di Jalan Urip Sumoharjo, Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kamis (9/1/2020) siang.

Pada pemaparan yang disampaikan CATAHU ini, Direktur WCC juga menerangkan, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak ditahun 2017, ada 62 kasus, 43 kasus kekerasan seksual dan 19 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Akan tetapi, di tahun 2018 yang hanya 80 kasus, diantaranya ada 52 kasus kekerasan seksual, sedangkan di 28 kasus lainnya berupa KDRT.

“Dari 21 kecamatan yang ada, lima kecamatan menjadi wilayah dominan kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak. Yakni, di Kecamatan Jombang mendapatkan posisi tertinggi, dan lainnya berada di Mojowarno dan Mojoagung masing-masing ada sebanyak tujuh kasus. Kemudian lainnya di Plandaan dan Sumobito sebesar masing-masing enam kasus,” paparnya.

Lebih lanjut Palupi menambahkan, kekerasan perempuan di 2019 yang sering dialami oleh korban itu yang terbanyak di ranah psikologi ada 63, seksual 44 serta fisik ada 23. Namun untuk kekerasan terhadap perempuan yang sering terjadi adalah, perkosa, dibujuk, di, tampar dan lainya. Kemudian, melihat dari faktor umur korban mulai dari umur balita sejak lahir hingga 5 tahun ada 2 orang, serta usia beranjak remaja dari 6 tahun hingga 18 tahun ada 38, dan dewasa dari umur 19 tahun sampai orang tua umur 55 tahun ada 43 korban.

“Dari pendidikan korban yang terbanyak rata-rata SMU ada 41 kasus. Sedangkan, latar belakang pekerjaan korban hampir 50 persen lebih ada 19 yang tidak bekerja, tapi untuk informal 15, dan formal ada 9. Akan tetapi untuk pekerjaan pelaku ini tertinggi yakni, informal ada 39, serta ada 23 tidak bekerja, tapi rata-rata untuk formal ada 20 dan ada 4 kosong,” terangnya.

Adapun, melihat dari faktor hubungan korban dan pelaku paling banyak adalah relasi suami, mantan, pacar, orang lain, tetangga, teman, guru, istri, ayah atau orang tua dan saudara. Jumlah besar bentuk faktor dampaknya yang sudah tertangani ini juga ada 108 psikologi, 44 seksual, ekonomi 32, fisik 19, beserta sosial 12. Akan tetapi, dampak yang belum tertangani ada 10 psikologis, ekonomi ada 6, tapi di sosial, fisik dan seksual ada 2.

“Dampak dengan adanya hal ini terkadang korban mengalami trauma dan tekanan. Kita juga mendorong untuk para penyidik kepolisian segera menangkap ketujuh pelaku yang masih berstatus DPO. Dari 7 pelaku ini murni di 2019, berada di 7 kecamatan berbeda diantaranya, Sumobito, Kudu, Tembelang, Jombang, Mojoagung, Ploso, Perak, dan rata-rata pelaku DPO ini dilarikan oleh orang tuanya,” tutupnya.

Reporter Taufiqur Rachman

Editor Achmad Saichu