Sungai Brantas Tercemar Limbah Tahu

Share this :

Limbah tahu copyKediri, Memo-Sungai Brantas yang mengalir membelah Kota Kediri disinyalir sudah tercemar limbah tahu. Pasalnya, pengolahan limbah milik Industri tahu yang berada di sepanjang Jl Yos Sudarso Kota Kediri disinyalir masih memiliki pengolahan yang baik.

Agus Sahat, Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Kediri mengatakan, pengolahan limbah di Kota Kediri memang selama ini hampir semuanya belum memiliki pengolahan yang baik. “Dari hasil pengecekan air bersih di sekitar industri tahu di Kota Kediri sangat buruk dan hal ini disinyalir dari faktor pembuangan limbah industri tahu di Kota Kediri yang hampir semua tidak memiliki pengolahan limbah,” ungkapnya.

Dikatakan, hampir di tiap sudut Kota Kediri banyak dijumpai industri tahu. Industri tahu di Kota Kediri sendiri termasuk ke dalam industri kecil yang dikelola oleh masyarakat Kota Kediri dalam skala rumah tangga. Rata-rata dalam pengolahannya itu tidak dilengkapi dengan unit pengolah air limbah sehingga limbahnya langsung dibuang ke sungai kecil dan mengalir ke Sungai Brantas.

Bahkan industri tahu dalam skala besar yang berada di sepanjang Jl Yos Sudarso diantaranya memang telah memiliki unit pengolah limbah. Namun, dari pengecekan Labkesda Kota Kediri diketahui hanya 3 industri yang memiliki pengolahan limbah yang baik, selebihnya tidak memiliki.

Untuk memproduksi 1 ton tahu, bisa menghasilkan limbah sebanyak 3.000 – 5.000 Liter. Sumber limbah cair pabrik tahu sendiri berasal dari proses merendam kedelai serta saat proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu.

Sementara industri tahu di Kota Kediri disinyalir seringkali belum ditangani secara baik sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan seperti bau tidak sedap, limbah cair dan padat yang mengandung protein tinggi sehingga dapat menimbulkan gas buang berupa Amoniak atau Nitrogen dan Sulfur yang tidak sedap dan mengganggu kesehatan.

“Kami berharap untuk industri tahu di Kota Kediri lebih mementingkan kesehatan masyarakat Kota Kediri dan untuk pengolahan limbahnya harus segera diperbaiki,” imbuh Agus Sahat.(can)