Suliyanto, Pengrajin Wayang Kayu asal Nganjuk

Share this :
Wayang Pertama dari Selembar Kayu Seharga Rp 1.500

Nganjuk, koranmemo.com – Wayang karyanya sudah terkenal dimana-mana.  Tapi bukannya jadi jumawa, pria ini tetap hidup sederhana.  Di studio seni miliknya, ribuan wayang tercipta sejak dia masih muda.  Dia adalah Suliyanto, pengrajin wayang kayu dari Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom.

Studio milik Suliyanto bisa dikatakan sederhana. Hanya berdinding batu-bata dan beralaskan tanah.  Ketika memasukinya, yang tercium adalah aroma khas kayu basah selesai digergaji.  Di salah satu sudut ruangan ada radio tua yang biasanya tidak pernah berhenti bersuara ketika Suliyanto sedang mengikir wayangnya di sana.

Hari itu pun juga sama.  Ketika wartawan Koran Memo berkunjung ke sana, dia sedang duduk di tempat dia biasa bekerja.  Di radio berputar lagu dangdut yang mungkin tidak terlalu dia dengarkan karena dia sedang fokus dengan pekerjaannya.  Melihat ada tamu datang, dia letakkan wayangnya yang masih separuh jadi, dia kecilkan suara radionya, dan dia pun mulai bercerita.  Tentang bagaimana dia mulai menjadi seorang pengrajin wayang kayu.

Suli, sapaan akrabnya mengatakan, bakat membuat wayang sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Tapi dia sendiri mengaku baru menjadikan wayang sebagai mata pencahariannya di tahun 80-an, tahun awal pernikahannya dengan sang istri.  Dia yang saat itu sudah nyaris putus asa karena tidak segera mendapat pekerjaan, mengadu kepada ayahnya.

Baca Juga: Subroto, Perajin Wayang Kulit

Ayah Suli adalah seorang dalang.  Dia kemudian meminta Suli untuk membeli selembar papan kayu di Mrican, Kabupaten Kediri. “Waktu itu satu papan seharga Rp 1.500,” kata Suli.

Setelah dibawa kembali ke sang ayah, dengan mengikuti arahannya, Suli menyulap papan tersebut menjadi sebuah wayang. Pertama, Suli membuat pola karakter wayang di atas papan. Setelah sesuai dengan yang diinginkan, papan dipotong mengikuti pola. Papan yang menjadi wayang, kemudian dirapikan tepiannya dengan pisau.

Tahap selanjutnya adalah mengukir, “Tahap yang ini memakan waktu lama,” kata Suli.