Sulap Bonggol Jati Menjadi Karyani Seni Bernilai Tinggi

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Akar besar kayu jati atau biasa disebut bonggol ternyata memiliki nilai seni dan ekonomi tinggi. Hal itu berhasil dibuktikan oleh Jhony Herimawan, pemuda asal Desa Kemaduh Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk. Di tangan kreatifnya, sebuah bonggol kayu jati disulap menjadi karya seni yang sangat bagus dan bernilai tinggi.

Jika beberapa pengrajin mengubah bonggol kayu jati menjadi aneka furnitur, seperti meja dan kursi, Jhony justru lebih memilih mengubahnya menjadi karya yang ia sebut seni gerindra. Dinamakan seperti itu karena dalam proses pengerjaaannya tidak menggunakan alat pemahat. Namun menggunakan gerinda, yakni alat yang biasanya dipakai oleh tukang las sebagai sarana memotong atau menghaluskan obyek berbahan besi.

“Tujuan saya menggunakan teknik gerinda agar tekstur kayu muncul secara natural. Kalau pakai alat pahat hasilnya justru halus ,” ungkapnya.

Ide ini muncul ketika ia melihat banyak sekali limbah akar kayu jati di wilayah Utara Kabupaten Nganjuk. Akhirnya ia pun berinisiatif untuk mengubahnya menjadi sesuatu dengan nilai ekonomi tinggi. Alhasil terbentuklah karya seni yang baru ada di Kabupaten Nganjuk ini.

Beberapa bulan menekuni kerajinan ini, Jhony terus mengexplorasi teknis pengerjaannya. Dari pengamatan wartawan, mungkin kerajinan ini satu –satunya di Kabupaten Nganjuk. Hasil karyanya beragam, ada bentuk gajah, monyet, ikan, dan lain lain.

“Bonggol ini satu kesatuan, jadi satu bonggol bisa muncul berbagai inspirasi. Kemudian untuk tahap finishing saya menggunakan teknik bakar, untuk gelap terang pada objek bonggol kayu ini,” jelasnya.

Proses pembuatan seni gerinda merupakan perpaduan teknik gerinda pada sebuah bonggol kayu jati, kemudian melalui proses burning (pembakaran) pada permukaan kayu sehingga tampak artistik dan natural. Dan proses-proses itulah yang membuat karya Jhony memiliki nilai lebih. Dan karya seni Jhony ini masih perlu sentuhan banyak pihak agar lebih artisik dan bernilai jual tinggi.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu