Subroto, Perajin Wayang Kulit

Share this :

Pesanan Justru Meningkat di Tengah Pandemi

Kediri, koranmemo.com – Pandemi Covid-19 membuat para pelaku usaha harus bersusah payah mempertahankan bisnisnya agar tidak gulung tikar.  Namun bagi Subroto, perajin wayang kulit asal Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, selama masa pandemi ini  justru penjualan wayangnya mengalami peningkatan cukup tinggi. Ternyata, hal itu disebabkan karena Subroto berani menurunkan harga wayang kulit buatannya agar lebih terjangkau bagi para pembeli.

Ruangan tempat Subroto membuat wayang kulit tidak terlalu besar.  Hanya sekitar 4 x 4 meter persegi.  Di ruangan tersebut terdapat sebuah meja kayu persegi panjang tempat dia membuat wayang kulit yang terbuat dari kulit sapi.  Hal yang pertama dia lakukan adalah menatah kulit lembu tersebut menggunakan alat besi. Kemudian dilanjutkan dengan proses mengecat dengan menggunakan kuas.

Subroto atau yang lebih akrab disapa Mbah Broto, sudah mulai mulai membuat wayang sejak dia masih berusia 15 tahun, atau sejak tahun 1960.  Dia mengatakan, dulu ayahnya juga adalah pembuat wayang kulit sekaligus dalang.  Kecintaannya terhadap wayang kulit juga karena sang ayah selalu mengajaknya untuk membuat wayang kulit bersama, sambil menceritakan tentang kisah-kisah wayang yang sedang mereka buat.

“Setelah saya sudah cukup dewasa dan semakin mahir membuat wayang kulit, saya mulai bisa menjual buatan saya sendiri. Apalagi setelah ayah saya wafat, saya yang meneruskan usaha beliau,” ujar pria yang tahun ini berusia 78 tahun ini.

Subroto, Perajin Wayang Kulit: Pesanan Justru Meningkat di Tengah Pandemi 2

Seiring berjalannya waktu, wayang kulit buatannya semakin dikenal oleh masyarakat luas, mulai dari Kediri sampai luar kota karena kualitasnya yang bagus.  Naik turun dalam penjualan sudah jadi hal yang biasa, namun dia tetap konsisten membuat wayang kulit berapapun pesanan yang masuk kepadanya.

Baca Juga: Legenda Wayang Mbah Gandrung

“Yang terpenting saya akan tetap berusaha.  Seperti ayah saya dulu.  Beliau orang hebat dan tidak pernah menyerah,” kenangnya.