Siswi Pendiam Raih NUN Tertinggi

Share this :

Roisya Nur Farhania tidak menyangka jika dirinya merupakan peraih Nilai Ujian Nasional (NUN)tertinggi tingkat SMP di Kota Kediri. Di lingkungan sekolah, gadis berparas cantik ini dikenal pendiam. Dia lebih suka mengerjakan soal di buku pelajarannya dari pada bermain dengan teman-temannya.

Roisya didampinggi ibunya saat ditemui di rumahnya kemarin sore (amid/memo)
Roisya didampinggi ibunya saat ditemui di rumahnya kemarin sore (amid/memo)

Roisya tinggal di sebuah rumah di Dusun Kroncong, Desa Purwosari, Kecamatan Kandat, tepatnya di perbatasan Kecamatan Wates. “Silakan duduk, saya panggil dulu anaknya (Roisya). Dia sedang berada di kamarnya,” tutur perempuan bernama Khusnul Khotimah, ibunda Roisya dengan ramah.

Tak lama, seorang gadis berambut sepunggung keluar dan menemui wartawan Koran Memo. Tampak raut kegemberiaan di gadis yang akrab dipanggil Roisya ini. Dia masih tidak menyangka jika dirinya dinyatakan sebagai peraih NUN tertinggi se Kota Kediri. “Kaget, tidak menyangka jika meraih NUN tertinggi. Saya tahu dari teman yang memberitahu jika saya meraih nilai tertinggi” katanya dengan nada gembira.

Ya, kemarin pagi Roisya mendapat kabar dari seorang temannya jika dirinya meraih NUN tertinggi. Hal tersebut diketahui temannya dari sebuah surat kabar. Namun gadis berusia 15 tahun ini tidak percaya begitu saja. Pasalnya pengumuman kelulusan baru dilakukan keesokan harinya.

Beberapa menit kemudian Roisya mendapat Black Berry Mesanger (BBM) dari temannya tersebut. Dia mengirimkan foto yang berisikan berita jika dirinya meraih NUN tertinggi. Kabar gembira tersebut langsung disampaikan kepada ibunya Khusnul Khotimah. “Kami tanyakan ke pihak sekolah apakah kabar tersebut benar, dan ternyata apa yang tertulis di surat kabar tersebut benar,” ungkap perempuan berusia 44 tahun tersebut.

Meraih NUN tertinggi adalah hasil jerih payah usaha yang dilakukan Roisya. Hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk membaca buku pelajaran. Baik di rumah maupun di sekolah Roisyah lebih suka mengerjakan soal-soal dari pada bergaul dengan teman sebayanya.

Jarangnya bergaul dengan teman-teman di sekolah membuat pelajar SMPN 1 Kediri ini dikenal sebagai gadis pendiam. Di waktu istirahat, Roisya lebih memilih mengerjakan soal di buku pelajarannya dari pada bercengkrama dengan temannya. “Kalau kumpul pasti yang dibicarakan itu saja, jadi bosan,” katanya.

Begitu juga saat berada di tempat bimbingan belajar. Apabila teman-temannya memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan, berbeda dengan Roisya. Seakan tak ingin membuang waktu, sepulang sekolah gadis kelahiran Kediri 19 Juli ini langsung pergi ke tempat bimbingan belajar.

Padahal waktu pembelajaran baru akan dimulai 1,5 jam berikutnya. Waktu luang tersebut digunakannya untuk mencari guru pembimbing. Putri kedua dari tiga bersaudara ini memilih berdiskusi dengan guru pembimbingnya apabila ada soal yang tidak bisa dikerjakan.

Lalu bagaimana kegitan Roisya saat berada di rumah ? Tak jauh berbeda seperti di sekolah maupun tempat bimbingan, Roisya lebih lebih memilih belajar di kamarnya dari pada keluar bermain ke rumah tetanga. Dia mengerjakan tugas-tugas sekolah yang belum dikerjakan di tempat bimbingan.

Walau bisa dibilang gila belajar, bukan berarti Roisya membaca buku hingga larut malam. Dia membatasi waktu belajar malam hingga pukul 20.00 WIB. Roisya kemudian beristirahat dan tidur. Apabila masih ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan, pekerjaan tersebut akan dikerjakan pagi harinya. “Jika dipaksakan pelajaran yang telah kita baca malah tidak bisa masuk ke ingatan,” ujarnya.

Begitu pula saat Roisya merasa bosan, dia memilih beristirahat dangan membuat sebuah handycraft dari kain flannel. Roisya berkreasi dengan kain flannel tersebut membuat boneka-boneka imut. Hasil kreasinya tersebut kemudian dijualnya pada teman sekolahnya dan dijual online. “Saya lebih suka di rumah dari pada main. Sampai-sampai saya bisa dibilang gak kenal tonggo,” ungkapnya sambil tertawa.

Meski merain NUN tertinggi bukan berarti Roisya mengusai seluruh mata pelajaran. Dari semua mata pelajaran yang diujikan Roisya lebih memilih pelajaran matematika dan IPA dari pada pelajaran bahasa. Gadis berambut lurus ini melih tertantang untuk menyelesaikan soal dari pada harus membaca. “Pelajaran matematika ini asyik, asal kita tahu rumus dasarnya kita bisa mencari jawabannya. Jadi kayak petualang yang menganalisis masalah,” ucap Roisya mengenai resep belajar matematika. (c5)