Siswa SDLB Tuna Rungu Jalani US

Pelaksanaan Ujian Sekolah (US) tingkat SD serentak dilaksanakan mulai kemarin, Senin (18/5). Tak terkecuali bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Seperti ketujuh siswa kelas 6 SDLB Tuna Rungu Putra Asih Kota Kediri. Meski memiliki kekurangan, mereka tetap berusaha untuk menjadi sejajar dengan siswa normal pada umumnya yakni menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya.

Tak Patah Semangat:  7 siswa SDLB Tuna Rungu Putra Asih Kediri menjalani US (yudha/memo)
Tak Patah Semangat: 7 siswa SDLB Tuna Rungu Putra Asih Kediri menjalani US (yudha/memo)

Tidak mudah mengikuti ujian bagi anak-anak tersebut. Sri Rahayu, salah satu guru SDLB Putra Asih mengatakan harus memiliki kesabaran dalam mendidik murid-muridnya sehingga mereka paham benar tentang seluruh materi yang diajarkan. Yang paling sulit bagi siswa SDLB tersebut adalah kurang pahamnya mereka dengan kalimat-kalimat panjang. Karena mereka memiliki penalaran sendiri tentang pertanyaan yang tertulis di kertas ujian. “Sebenarnya tidak ada kesulitan. Kalaupun ada, mungkin hanya kalimat-kalimat panjang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sri mengatakan metode pembelajaran yang dilakukan saat ini memang berbeda. Yakni tidak menekankan kepada bahasa isyarat. Namun lebih banyak dengan berdialog dan bertatap muka. Karena apabila para siswa sudah terjun di masyarakat, kebanyakan masyarakat banyak yang tidak tahu tentang bahasa isyarat.

Model soal dengan kalimat panjang juga sangat mempengaruhi. Oleh karenanya tak jarang ketujuh siswa menanyakan tentang maksud soal kepada para pengawas. Para guru dan pengawas juga selalu siap untuk memberikan penjelasan sehingga para siswa tahu dan mengerti soal yang akan dikerjakan.

Meski begitu, tidak ada yang berbeda dari proses US di SDLB Tuna Rungu Putra Asih dengan sekolah umum lainnya. Mereka tetap mengerjakan soal yang berjumlah 50 butir pilihan ganda dan tetap diawasi oleh 2 orang pengawas.

Tempat duduk para peserta juga berjajar satu-satu. Namun beberapa kali percakapan antara siswa dengan pengawas sering terdengar lantaran siswa kurang bisa memahami soal yang ditanyakan. Hari pertama memang berlangsung mata ujian Bahasa Indonesia. Seringkali pada ujian bahasa Indonesia menyuguhkan soal kata-kata dalam bentuk panjang. Untuk memahaminya, anak berkebutuhan khusus memerlukan waktu.

Dalam pengajarannya Sri Rahayu mengatakan hanya bisa memberikan pengarahan yakni ‘dibaca’ dan ‘diingat’. Karena tanpa itu semua, akan sangat sulit memberikan pemahaman lebih kepada seorang anak berkebutuhan khusus. Namun dengan itu semua, Sri juga bangga dengan semangat para siswanya untuk mengenyam dunia pendidikan.(rochmatullah kurniawan)

Follow Untuk Berita Up to Date