Sidang Praperadilan Terduga Guru Cabul Bakal Digelar

Share this :

Lamongan, koranmemo.com – Lagi, Polres Lamongan kali ini bakal menghadapi sidang praperadilan pasca berkas  permohonan yang diajukan oleh AG (46) salah satu oknum guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Lamongan melalui penasihat hukumnya, Parlindungan Sitorus.

Hal itu seperti terlampir dalam data base Pengadilan Negeri Lamongan, permohonan masuk tanggal 4 Maret 2019 dengan nomor perkara 3/Pid.Pra/2019/PN Lmg. Dalam klasifikasi perkara, pemohon mempertanyakan sah atau tidaknya penangkapan oleh pihak termohon.Humas Pengadilan Negeri Kabupaten Lamongan, Ery Acoka Bharata dikonfirmasi koranmemo.com, Minggu (17/3) mengatakan bahwa sidang perdana bakal digelar. “Hakimnya M. Aunur Rofiq, S.H. Sidang perdananya bakal digelar pada hari Senin tanggal 18 Maret,” jelas Ery menjawab melalui pesan WhatsApp-nya.

Permohonan praperadilan itu bermula ketika salah satu guru SMK Negeri di Lamongan, AG dilaporkan
telah melakukan pencabulan terhadap beberapa siswanya. Oknum guru tersebut dilaporkan oleh orang tua korban. Dari laporan itu, akhirnya penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lamongan melakukan pemeriksaan baik itu saksi maupun kepada terlapor.

Setelah adanya pelaporan resmi itu, akhirnya pihak sekolah memindahkan guru AG ke kantor cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Setelah melakukan pemeriksaan beberapa saksi, pihak penyidik Polres Lamongan memutuskan untuk menangkap  pelaku. Dari situlah, terlapor melalui penasihat hukumnya mengajukan permohonan praperadilan sah atau tidaknya penangkapan tersebut.

Informasi lain yang dihimpun,  tak hanya mengajukan permohonan praperadilan, penasihat hukum AG, Parlindungan Sitorus, juga melayangkan surat keberatan dan penolakan atas ralat Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada pihak terkait. Hal itu seperti beberapa lampir berkas yang dikirim kepada awak media.

Didapat pula informasi, di hari bersamaan pengajuan praperadilan tanggal 4 Maret 2019, penasihat hukum pelaku juga mendampingi istri pelaku saat dilakukan pemeriksaan oleh Propam Polda Jatim. “Kami juga melaporkan Kanit PPA ke Polda Jatim, saat bersamaan kita mengajukan permohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Lamongan,” jelas Parlindungan Sitorus, S.H.

Menurut pengacara pelaku, proses penangkapan AG oleh penyidik PPA Polres Lamongan sangat disayangkan. Sebab, dalam proses pemeriksaan sebelumnya, terlapor juga sudah kooperatif. “Klien saya kan koperatif, kok mesti harus ditangkap. Dipanggil, pasti klien saya datang. Apalagi, saat ditangkap, status klien saya masih saksi bukan tersangka,” sesalnya.

Terkait sebelum penangkapan, setidaknya penyidik harus memberitahukan melalui SPDP ke pihak Kejaksaan Negeri Lamongan. “Kami tidak pernah menerima surat panggilan jika klien kami sebagai tersangka. Faktanya, klien saya ditangkap, baru besoknya ditetapkan tersangka, namun tanggalnya dibuat mundur pada tanggal saat penangkapan,” terang Parlindungan Sitorus.

Disisi lain, Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung melalui Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Wahyu Norman Hidayat dikonfirmasi terkait persiapan pra peradilan, pihaknya bakal mengajukan penundaan. “Kita minta mundur minggu depan mas, belum ditandatangani sama Polda,” sebut Norman singkat.

Reporter Fariz Fahyu

Editor Achmad Saichu