Sidang Korupsi Jembatan Brawijaya, Dugaan Keterlibatan Samsul Ashar Makin Kuat

Share this :

Sidoarjo, koranmemo.com – Mantan Wali Kota Kediri, Samsul Ashar kembali dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan dugaan korupsi mega proyek jembatan Brawijaya Kota Kediri di pengadilan tindak pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, Jumat, (16/3/2018).

Dalam keterangan yang diberikan Samsul di persidangan, terkait adanya sejumlah uang yang diterima baik secara tunai maupun via transfer ke rekening BCA atas nama saudara sepupunya, Fadjar Poerna Wijaya semakin kuat.

Hal itu disampaikan langsung oleh Fadjar ketika dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Kediri sebagai salah satu saksi. Fadjar mengungkapkan jika dirinya memang benar memberikan uang kepada mantan Wali Kota Kediri tersebut pada tahun 2008.

“Saya tarik secara tunai sebanyak kurang lebih sekitar 6 kali. Setelah itu, langsung saya berikan kepada Pak Samsul di rumah dinasnya,” ujar Fadjar ketika menjawab pertanyaan JPU.

Lebih jauh fajar menerangkan jika di rekeningnya juga beberapa kali terjadi transaksi uang masuk secara transfer dari rekening PT Fajar Parahyangan (FP) dimana Dr. Yoyo Kartoyo, M.M. sebagai Dirut PT Fajar Parahyangan, Bandung yang juga dihadirkan dalam persidangan.

“Saya tahu adanya uang masuk ke rekening saya ketika Pak Samsul memberi tahu saya dengan cara menelepon,” tambah Fadjar.

Hal tersebut semakin diperkuat salah satu saksi, Ratna widiastuti yang berprofesi sebagai bendahara (kasir).

Dalam keterangannya dia menyebutkan telah mengeluarkan cek dan dibukukan secara rapi. “Betul saya bukukan setiap kali ada uang yang keluar,” jelas Ratna.

JPU melihat ada kejanggalan pada pembukuan Ratna, dimana ada kode yang tertulis di sebelah pojok kiri atas dengan tulisan “wlkdr” dan kode tulisan “Besi Beton Kediri” yang mengalir ke Wali Kota Kediri. Dugaan itu dibenarkan dari keterangan saksi Ratna.

“Iya saya yang menulisnya, untuk Wali Kota Kediri. Namun semua yang memberikan perintah adalah Accounting,” ucapnya.

Tidak hanya itu, transaksi uang sebesar Rp.150 juta juga bertuliskan kode ‘swbdr’ dan telah terungkap yang bermakna ‘Sewa Bendera’. Hal itu diketahui untuk pembayaran fee PT AP kepada PT SGS terkait pemenang lelang.

Sementara itu, Penasehat Hukum Terdakwa Wijayanto, Budi Nugraha mengatakan jika semakin terlihat jelas ketika saudara Fadjar Poerna Wijaya saat memberikan keterangannya.

Dimana Fadjar menjelaskan jika tidak mengetahui siapa yang mentransfer ke rekening pribadinya dan tidak tahu apa itu PT SGS atau PT AP.

Menurutnya, proyek jembatan Brawijaya ini sudah disetting sejak sebelum mantan Wali Kota Kediri Samsul Ashar menjabat.

“Terbuka dari persidangan hari ini siapa saja yang bermain. Semua saksi dan bukti-bukti sudah klop terlihat di fakta persidangan,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Samsul Ashar mengelak saat disinggung JPU terkait penerimaan sejumlah uang yang diberikan oleh orang yang berinisial WD.

“Uang 400 juta itu uang pribadi saya. Itu untuk keperluan membeli gabah,” ujarnya.

Dirinya juga menyangkal jika adanya 9 kali transferan yang masuk ke rekening dirinya.

Perlu diketahui, Dr. Yoyo Kartoyo, M.M. Dirut PT Fajar Parahyangan, Bandung mendirikan PT Fajar Parahyangan (AP) sejak tahun 1978.

Dirinya memenangkan proyek jembatan Brawijaya pada 8 Desember 2010. Awalnya, PT AP mempunyai cabang di bali dan Jatim yang berpusat di Sby. Kantor Cabang berdiri sejak 25 April 2006

Di tahun 2010 Kepala cabang PT AP Surabaya dijabat Munawar yang resmi dibuat dengan SK Notaris.

Dari keterangan saksi Munawar yang disebut hakim jika Munawar hanya digaji Rp 2,8 juta per bulan sebagai kepala cabang.

Yoyo mengaku bertemu dengan orang yang bernama Erwanto di Bandung. Dari Erwanto lah dirinya mengaku kenal Komisaris Utama PT SGS Tjahjo Widodo alias Ayong sekitar tahun 2009 saat di Surabaya.

Ayong bercerita, pada tahun 2009 dirinya bertemu Samsul Ashar di Hotel Hyatt Surabaya dengan 5 orang lainnya.

Dikatakan, pertemuan itu atas ide seorang marketingnya. Dirinya mengaku membicarakan rehabilitasi klinik milik Samsul. Selain itu juga membahas pembangunan Politeknik, dan jembatan Brawijaya Kediri.

Dari pembicaraan tersebut, lalu dirinya menanggapi permintaan Samsul terkait rehabilitasi klinik.

Ayong juga mangaku jika menitipkan uang bantuan. Dirinya mengaku 6 kali memberikannya dengan total Ro 1 Milyar lebih kepada Samsul. “Alasannya pinjam ternyata tidak ada yang kembali. Tidak ada jaminan juga saat itu, ” jelas Ayong.

Reporter: Yudhi Ardian

Editor: Achmad Saichu