Sekolah Ramah Anak: Tempat Aman, Bersih dan Sehat

Share this :

Lumajang, koranmemo.com – Anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hal tersebut tertulis dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menjadi dasar pengembangan Sekolah Ramah Anak.

Sebagai upaya mendukung pemenuhan hak – hak anak tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (Disdalduk, KB & PP)  menggelar Bimbingan Teknis  Sekolah Ramah Anak (SRA) di Ruang Pertemuan STKIP PGRI Lumajang, Kamis (03/05/2018).

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Lumajang, Agus Widarto berharap penerapan Sekolah Ramah Anak bisa menjadi tempat yang aman, bersih dan sehat bagi anak. Keberadaan guru sebagai pengganti orang tua ketika di sekolah diharapkan menjadi panutan bagi anak -anak.

Lebih lanjut, Sekretaris Dinas Dalduk, KB & PP,  Heri Santoso menjelaskan bahwa Sekolah Ramah Anak  adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utama adalah non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak.

“Banyak orang yang berpikiran yang penting aman, padahal belum tentu juga aman. Tugas kita adalah mendorong sekolah mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak,” ujarnya.

Dalam usaha mewujudkan Sekolah Ramah Anak perlu didukung oleh berbagai pihak antara lain keluarga dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak. Lingkungan yang mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri. Kebiasaan anak memiliki kecenderungan meniru, mencoba dan mencari pengakuan akan eksistensinya pada lingkungan tempat mereka tinggal.

“Pada dasarnya nilai – nilai sekolah ramah anak sudah dilakukan oleh sekolah – sekolah, yang kami lakukan adalah menyamakan persepsi bahwa sekolah sebagai ajang bermain dan belajar bagi anak, tidak ada ketakutan dari kekerasan, tidak ada lagi ketakutan dari bullying. Upaya ini harus didukung oleh 3 elemen, yang pertama keluarga, kedua sekolah dan terakhir lingkungannya,” paparnya.

Bimbingan tersebut diikuti oleh jajaran sekolah SD / MI dan Guru Konseling di Kabupaten Lumajang berjumlah kurang lebih 200 peserta.

Reporter : Abd Halim, Sp

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date