Sejak 1955 Hingga Sekarang, Tetap Pertahankan Citarasa

Malang, koranmemo.com – Kota Malang tidak hanya kaya destinasi wisata, melainkan juga ragam kulinernya yang melegenda. Salah satu kuliner lokal yang menjadi daya tarik masyarakat sejak dulu dan bertahan hingga kini adalah es tawon atau yang dulu sering disebut es kidul dalem.  Kedai es ini sekarang bertempat di Jalan Zainul Arifin Nomor 15, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Es tawon sudah dikenal banyak orang, baik masyarakat Kota Malang sendiri hingga masyarakat dari luar kota. Bahkan, sejumlah artis Ibu Kota juga pernah mampir ke depot es tawon yang sudah ada sejak tahun 1955 ini, bahkan sudah ganti generasi.

Saat ini depot es tawon dikelola generasi kedua, yakni Sri Utami (56), menantu dari Yaminah, generasi pertama penjual es tawon.  Sehari-harinya,  Sri Utami dibantu berjualan es tawon oleh anak terakhirnya.

Sri menceritakan, awalnya Yaminah berjualan hanya menggunakan gerobak dorong yang diparkir di pinggir jalan, tepatnya di tikungan Jalan Zainul Arifin ini dan berada di depan rumah warga.  Di sebelah tempat dia berjualan ada pohon asem yang tinggi dan rindang namun ada sarang tawon yang besar.  Makanya, banyak tawon yang beterbangan di sekitar gerobak es tawon tersebut.

“Banyak tawon yang beterbangan namun tidak ada yang mengganggu pembeli.  Meski kami sudah pindah tempat dan pohon asamnya  sekarang sudah tidak ada, tapi nama es ini sudah dikenal sebagai es tawon sejak tahun 70-an,” tutur Sri.

Menu es yang kini tersedia masih sama seperti ketika pertama berjualan, yakni es kacang hijau alpukat, es campur, es kacang hijau tape dan es kacang hijau tape hitam. Harganya memang sudah berubah mengikuti perkembangan ekonomi di Kota Malang, namun rasa dari es tawon ini tidak pernah berubah.

Sri mengatakan, sepeninggal Yaminah pada 2001 lalu, Sri memang bertanggung jawab penuh mengelola depot es tawon.  Dia mengaku tidak merasa kesulitan karena dia sudah menggantikan Yaminah sejak tahun 1996. “Sudah tidak kuat untuk jualan, saya yang menggantikan.  Tapi ketika ibu masih sehat pun saya juga sudah membantu.  Makanya soal rasa, saya jamin tetap sama sejak dulu,” kata Sri.

Wanita berjilbab ini menuturkan, setiap hari dia memulai usahanya dengan modal Rp 300 ribu. Dalam sehari, Sri setidaknya menjual 80 gelas es tawon dengan berjualan sejak pukul 08.00 hingga 14.30 WIB.

“Kadang kalau sudah habis duluan, ya tutupnya lebih cepat. Dulu bisa sampai 100 gelas lebih, saat ini pelanggan lama sudah banyak yang pindah jauh ke luar kota dan ada yang sudah meninggal. Dan kenapa bukanya siang saja? Karena kalau malam saya jualan soto,” tuturnya.

Untuk dapat menarik pelanggan Sri mengandalkan resep dari mertuanya dulu. Mertua telah mengingatkannya agar tidak mengubah resep turun temurun. Tidak hanya itu, alat peserut es sejak dahulu juga tak pernah diganti hingga saat ini. Menu es yang disajikannya juga berbeda pada umumnya. Pada rasa, menurutnya, depot sejak dahulu tidak pernah memakai bahan pemanis buatan. Oleh karena itu, rasanya enak untuk dikonsumsi siapapun.

“Pembeli senang karena rasanya tidak memakai bahan pemanis buatan melainkan pemanis asli. Selain itu jarang ada es kacang hijau yang dicampur alpukat, hanya ada di sini saja adanya,” paparnya.

Es Tawon yang dijual berbeda pada umumnya, es campur depot justru sangat menonjolkan kacang hijaunya. Selain es dan gula, es campur depot Sri terdiri dari kacang hijau, tape, ketan hitam, cincau, dawet dan alpukat. Meski terbilang lebih lengkap dibandingkan menu lainnya, depot Sri tetap membanderol harganya sama rata, yakni Rp 8 ribu per gelasnya. “Di depot sini yang paling banyak dibeli yakni Es kacang ijo alpukat. Menu andalan di sini yang paling laris,” ujarnya.

Menurutnya, rata-rata pembeli dari kalangan pelajar dan pegawai seperti PNS di Pemkot Malang maupun Pemkab Malang, TNI, Polisi dan pegawai bank. Masyarakat pensiunan juga banyak karena dia sudah sering langganan sejak zaman mertuanya dulu. Kini untuk mempertahankan depot tersebut dia membuka cabang yang dipegang oleh anak pertamanya di Jalan Hamid Rusdi. “Nanti umpama saya sudah tidak berjualan mungkin depot ini diteruskan oleh adik saya,” ungkapnya.

Sementara, Salma, salah satu pembeli mengatakan, es tawon ini sudah menjadi langganannya sejak zaman sekolah dasar (SD) dulu. Menurutnya, citarasa Es Tawon ini sejak dulu tidak berubah, tetap enak dan yang paling penting tidak memakai pemanis buatan. Maka dari itu saat ke Kota Malang sering mampir membeli es untuk pelepas dahaga dan bernostalgia zaman kecil dulu. “Es ini langganan saya sejak SD, kini saya sudah mempunya dua anak sudah besar semua. Rasanya tidak berubah dan harganya tetap murah meriah,” pungkasnya.

Reporter : Yudha Kriswanto

Editor: Della Cahaya