Sebar Kotak Amal Ringankan Beban Sesama

Share this :

Muhammad Subhan, Panit Binmas Polsek Srengat

Sekilas Muhammad Subhan polisi berpangkat Bripka ini terlihat seperti polisi pada umumnya. Namun siapa sangka, polisi yang saat ini menjadi Panit Bina Masyarakat (Binmas) Polsek Srengat ini mempunyai hal menarik yang jarang ditemukan. Selepas aktivitasnya sebagai polisi, bapak 3 anak itu dengan sukarela menyebarkan kotak amal sembari mengumpulkan sumbangan yang digunakan untuk membantu kaum fakir miskin.

Ketika wartawan koran mendatangi rumahnya di Jalan Kelut Kelurahan Kepanjenlor Kota Blitar, Muhammad Subhan memberikan sambutan hangat. “Silakan masuk,” ucap polisi berpostur tinggi itu, Selasa (13/12).

Terlihat pria berperawakan tinggi dan tegap itu sedang sibuk memasukkan sejumlah uang ke dalam kantong kresek. Terlihat ada dua kantong kresek warna putih berukuran sedang yang disediakan olehnya. Dia tidak sendiri, namun dibantu oleh seorang tetangganya.

Dengan cekatan, Subhan langsung membuka kotak amal kaca berukuran 15 cm x 15 cm dengan tingga sekitar 50 cm. Pria itumengambil lembaran-lembaran pecahan uang didalam kotak kaca yang sudah berisi separo itu. Ada pecahan uang seribuan, dua ribuan, lima ribuan bahkan sampai 50 ribuan. Tak sedikit juga ada uang recehannya.

Terlihat sebuah sticker sengaja ditempel di kotak amal dan bertuliskan Kotak Amal Yatim, Fakir Miskin, dan Jompo. Lalu, dibawahnya ditulis dengan huruf tebal warna biru Al Ikram. Ya, M. Subhan inilah pemilik kotak amal tersebut. Selain itu, masih ada sekitar 34 kotak amal lagi yang dia sebar. Ukuranya macam-macam, ada yang kecil dan ada yang besar.”Biasa kalau yang seperti ini saya tempatkan di toko-toko besar dan ramai pembeli,” ujar pria 36 tahun tersebut di rumahnya dekat Stadion Supriyadi.

Memang, di luar dinasnya sebagai anggota Polsek Srengat, Subhan aktif di bidang sosial kemasyarakatan. Salah satunya yakni gencar menghimpun amal jariyah untuk para yatim, fakir miskin, dan jompo. Saat ini ada dua lokasi atau wilayah dia menyebar kotak amal tersebut. Yakni di kawasan tempat tinggalnya Kelurahan Kepanjenlor dan di wilayah Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat.

Kotak amal itu tak hanya disebar di sejumlah toko tapi beragam. Mulai dari warung, supermarket, sampai tempat olahraga seperti futsal. Ayah tiga anak tidak sembarangan atau asal-asalan dalam menempatkan kotak amalnya itu.”Jadi, harus dilihat dulu kondisi dan situasi tempat yang digunakan memasang kotak amal. Ramai orang (pengunjung) atau tidak,” katanya.

Bukan hanya pemilihan tempat untuk pasang kotak amal saja, tapi bagaimana cara agar kotak amal itu bisa terisi penuh oleh uluran tangan ikhlas orang-orang. Dia tidak ingin kotak amal hanya menjadi hiasan atau justru dimanfaatkan untuk meletakkan  benda-benda lain.

“Seperti yang ditoko. Setelah kotak amal selesai diletakkan, dia lantas pergi dan pemiliknya toko memindahkan atau menempatkan dengan tumpukan barang-barang lain. Kan kotak amal gak kelihatan dan seperti tidak berguna. Apalagi, bentuk kotak amal yang asal-asal, otomatis gak menarik orang-orang serta tak membuat yakin,” ujar polisi asli Blitar ini.

Oleh sebab itu, dia memiliki cara tersendiri agak kotak amal itu ada manfaatnya dan bisa terisi banyak uang. Menurut pria kelahiran 18 November 1981 ini, salah satunya caranya adalah memberikan motivasi. Kepada siapa ? Tentunya, kepada pemilik toko maupun warung.”Jadi, kalau orang biasanya setelah menyerahkan kotak lalu pergi. Tapi kalau saya, mereka saya beri motivasi dulu agar juga ikut beramal. Apalagi, amal ini ditujukan untuk anak yatim. Otomatis mereka akan terketuk hatinya,” terangnya.

Apabila uang amal jariyah dari sejumlah kotak telah terkumpul. Selanjutnya uang itu disalurkan langsung ke sejumlah anak yatim, fakir miskin atau orang jompo. Itupun tergantung kondisi di lingkungan tersebut. Dia mengatakan, seperti di Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat terdapat sedikitnya 39 anak yatim.

“Nanti sekitar 4 bulan sekali hasil uang di kotak amal itu akan diambil dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Biasanya dalam acara buka bersama atau waktu pengajian dimusala,”jelas Subhan.

Sedangkan untuk di lingkungan tempat tinggalnya sendiri, setidaknya yang terdaftar ada enam anak saat ini. Di lingkungan itu dia menyebar 16 kotak amal. Rata-rata setiap 3 atau 4 bulan sekali uang yang ada dalam kotak amal itu diambil. Namun, jika kotak amal masih belum ada isinya atau hanya sedikit dan tak ada perkembangan, maka dia pun memutuskan mengambil kotak amal itu dan dipindahkannya ke tempat lain.”Karena saya nggak enak dengan pemiliknya, kalau terus dibiarkan, dikira minta-minta, lebih baik saya ambil saja,” terang putra kedua pasangan Nur Amali dan Sukatmi itu.

Disinggung soal alasan Subhan melakukan hal yang jarang dilakukan oleh banyak orang, secara gamblang dia menjawab, “Saya melakukan ini iklas karena panggilan hati”.(angga prasetya)

 

 

Follow Untuk Berita Up to Date