Satu Keluarga dari Madiun Jadi Korban Sriwijaya Air SJ-182, Tetangga Doakan Korban

Madiun, koranmemo.com – Tiga warga Kota Madiun tercatat dalam manifest penumpang pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak nomor penerbangan SJ-182. Diketahui, pesawat itu hilang kontak di Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1) siang.

Ketiganya merupakan satu keluarga, warga Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun tepatnya di Perumahan Royal Orchid Residence RT 30 RW 08. Terdiri dari ibu Rahmania Ekananda (40) dan dua putrinya Fazila Ammara Majeeda (6) dan Fathima Ashalina yang belum genap usia tiga tahun.

Kemudian satu putri bibinya Dinda Amelia yang berasal dari Pontianak juga turut jadi korban.

Sekretaris Lurah Josenan Tutik Herlinawati mengatakan mendapatkan informasi adanya warga Josenan dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya tersebut dari Ketua RT setempat.

“Saya dapat info dari Bu RT yang tadi kebetulan saya mengantar sembako di RT 30, ada warga yang beralamat Josenan termasuk dari korban Sriwijaya Air,” ungkapnya.

Ketua RT 30 Uthik Sigit menyampaikan dari pihak keluarga Kolonel (Tek) Akhmad Khaidir, masih berkeyakinan dan besar harapan jika keempat korban terdekatnya segera ditemukan dalam kondisi masih hidup dan selamat dari insiden nahas tersebut.

“Kita sama-sama berdoa, agar Bu Nia, putrinya dan korban lainnya ditemukan dalam kondisi selamat,” tuturnya singkat saat dihubungi via telepon

Sementara salah satu tetangga korban, Erwin mengaku mendapat kabar setelah mendengar pesawat jatuh di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. “Pertama juga tidak percaya dan masih berharap pesawat yang ditumpangi Bu Nia bukan yang dinyatakan jatuh tersebut,” ucapnya Selasa (12/1).

Berdasarkan keterangannya, Rahmania dan keluarga menetap di Josenan sejak 2011 hingga awal tahun 2017 saat suaminya Kolonel (Tek) Akhmad Khaidir ditugaskan di Lanud Iswahyudi. Yang kemudian dipindahtugaskan ke Jakarta, dilanjutkan menjabat sebagai Kepala Dinas Logistik (Kadislog) Lanud Supadio Pontianak sejak enam bulan lalu.

“Selama pindah komunikasi dan silaturahmi masih sering,” lanjutnya.

Rahmania dikenal tetangga sebagai seorang yang supel dan aktif mengikuti kegiatan di lingkungan sekitar. Hal itu diungkapkan oleh Nanik Suhono, yang juga merupakan tetangga terdekatnya.

Ia mengaku dua minggu lalu masih sempat berkomunikasi dengan Rahmania ihwal keperluan pengeluaran rumah tangga semenjak rumahnya tak berpenghuni. “Dua minggu lalu Tante Nia (sapaan akrabnya) sempat transfer uang untuk keperluan bayar iuran, karena semenjak rumahnya ditinggal semuanya dititipkan ke saya,” kata Nanik.

Awalnya Nanik tidak ada firasat apapun mengenai Rahmania, namun setelah mendengar kabar tersebut ia langsung mencari informasi kebenaran. “Saya cari di data Manifest itu ternyata ada nama tante Nia dan dua putrinya, seketika itu badan lemas. Ya semoga Tante Nia, dua putrinya dan satu anak dari bibinya segera ditemukan,” harapnya.

Reporter : Radifa Aliya Putri/ Juremi
Editor: Della Cahaya