Rutan Trenggalek Produksi Batik Shibori Karya Narapidana

Trenggalek, koranmemo.com – Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Trenggalek mulai memproduksi Batik Shibori. Produk batik yang menggunakan teknik pewarnaan kain ala Negeri Sakura itu kini menjadi salah satu wadah pembinaan untuk mengasah kreativitas warga binaan pemasyarakatan (WBP) khususnya kalangan perempuan sebelum menuntaskan masa hukuman.

Batik yang menggunakan teknik Shibori dengan merek Rugale (RG) kepanjangan Rutan Trenggalek di produksi sejak kisaran 4 bulan silam. Batik itu di produksi oleh 6 WBP baik yang berstatus tahanan ataupun narapidana. “Batik ini karya warga binaan, 100 persen hasil penjualan digunakan untuk pengembangan pembinaan kemandirian,” kata Pembina Batik, Dwi Nindya Sari, Kamis (14/11).

Batik ini, lanjut Petugas Perempuan atau Sipir Rutan Trenggalek tersebut pertama kali dikenalkan oleh WBP Hartini asal Kecamatan Watulimo Trenggalek. Batik ini mulai dipelajari narapidana perempuan sejak awal tahun dengan mendatang pakar dari pihak luar Rutan. “Awalnya coba-coba untuk mendapatkan ilmu, lambat laun berkembang dan di produksi skala besar,” imbuhnya.

Saat ini Batik Rugale masih di produksi 6 WBP. Selain fokus pembinaan pembuatan batik, pihak rutan tengah menggalakkan kerajinan lain diantaranya seperti kerajinan bunga, rajut dan wayang. “Memang saat ini mayoritas di kerjakan oleh WBP yang sudah vonis atau narapidana. Tetapi tidak menutup kemungkinan yang lain terlibat sesuai dengan bakat dan minat,” pungkasnya.

Saat ini Rutan sudah memproduksi lebih dari 450 produk, baik batik warna alam ataupun sintetis. Pemasarannya diantaranya saat ini sudah mencapai Kabupaten atau Kota di wilayah Mataraman hingga Malang dan Semarang. Harga batik warna alami Rp 100 ribu dan Rp 80 ribu warna sintesis. “Sebagian uangnya untuk WBP dan perputaran modal,” kata Karutan Trenggalek, Dadang Sudrajat.

Untuk mengembangkan produk tersebut, pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait dan jasa reseller internal Rutan. Pihaknya juga getol membawa Batik Rugale di sejumlah pameran tingkat regional ataupun skala nasional. “Banyak pesanan dari Rutan ataupun Lapas lainnya. Alhamdulillah mendapatkan respon positif dari Kakanwil Jawa Timur,” pungkasnya.

Salah satu WBP Rutan Trenggalek, Hartini mengaku senang usulannya dapat memberikan manfaat. Mantan pebisnis batik itu sengaja mengusulkan pembuatan Batik Shibori karena dinilai memiliki potensi nilai jual tinggi di pangsa pasar. “Senang sekali bisa bermanfaat. Kebetulan saya dulu 2 bulan juga berkecimpung di bisnis batik sebelum terjerat kasus hukum,” ujar ibu 3 anak itu.

Saat ini ia mengaku tak lagi meminta jatah kiriman uang keluarganya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ia mengaku bisa memberikan sumbangsih kepada pihak keluarga selama menjalani masa hukuman. “Bahkan saya bisa mengirim uang ke rumah. Saat pihak keluarga menjenguk saya titipkan, total (4 bulan) sekitar Rp 1,5 juta yang saya kirim,” imbuhnya.

Meskipun tak banyak, Hartini mengaku hampir setiap bulan selalu ada pesanan. Padahal, awal mulanya modal produksi itu disumbang oleh salah satu pelaku usaha batik di Trenggalek saat memberikan materi di Rutan Trenggalek. “Awalnya dibantu 18 kain lengkap dengan pewarna. Dengan dukungan Rutan saat ini terus berkembang. Hari ini saja ada 85 pesanan batik,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date