Rusia Gunakan CCTV untuk Memastikan Warganya Melakukan Karantina

Share this :

Moscow, koranmemo.com – Rusia gunakan CCTV yang mampu mendeteksi wajah warganya untuk memastikan mereka yang seharusnya mengkarantina diri menaatinya. Meski menuai banyak protes dalam penerapannya, Rusia tetap melanjutkan pemasangan tekonologi ini dan berhasil menerapkan teknologi canggih ini tepat sebelum kasus corona mencapai negaranya.

Dengan adanya teknologi ini, tugas pemerintah dalam memastikan warganya yang harus melakukan karantina secara swadaya dapat dilakukan dengan lebih mudah. Pemerintah Rusia sendiri telah mengaktifkan 100.000 CCTV canggih yang terhubung dengan kecerdasan buatan dan tersebar di Rusia. Jumlah ini masih akan bertambah di masa mendatang setelah melihat fungsinya yang sangat efektif.

Memastikan warga yang berpotensi menularkan virus Covid-19 melakukan karantina dengan semestinya adalah kunci dari menekan jumlah kasus corona. Selasa (24/3), kasus corona di Rusia telah mencapai 438 kasus dan mayoritas pasien berasal dari Moscow.

“Kami secara berkelanjutan terus memeriksa kebijakan ini dipatuhi. Hal ini termasuk dengan memanfaatkan sistem pengenal wajah otomatis,” ujar Walikota Moscow, Sergei Sobyanin.

Melalui teknologi canggih ini, pihak kepolisian Moscow menemukan sekitar 200 pelanggaran yang dilakukan oleh warga terkait kebijakan karantina. Kebijakan karantina selama 14 hari berlaku bagi mereka yang baru saja berpergian dari daerah terdampak corona atau berinteraksi dengan warga yang positif mengidap corona.

Wajah mereka yang diharuskan melakukan karantina tersebut telah direkam oleh pemerintah, sehingga CCTV yang beroperasi di berbagai lokasi akan melaporkan jika menemukan wajah warga tersebut. “Kami dapat mengidentifikasi dimana mereka,” ujar Sergei dikutip dari AFP.

Teknologi ini sendiri pertama kali di uji coba oleh Rusia pada gelaran Piala Dunia yang diselenggarakan di Rusia pada 2018 lalu. Namun, teknologi ini baru benar-benar difungsikan secara penuh pada Januari tahun ini.

Meski tergolong teknologi baru, tingkat kesalahan yang mungkin terjadi pada sistem teknologi ini diklaim sangat rendah. “Kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi pada algoritma pengenal wajah ini hanya 1 banding 15 juta kejadian,” ujar Alexander Minin, CEO NtechLab yang memenangkan tender pengadaan teknologi ini.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date