Rusia Dituduh Danai Taliban untuk Mengguncang Amerika Serikat dan Sekutunya

Share this :

Moscow, koranmemo.com – Rusia telah dituduh mendanai pejuang Taliban untuk membunuh tentara Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Afghanistan. Hal ini tercantum dalam laporan AS dan mendesak pemerintah Inggris yang termasuk sekutu AS untuk mengambil tindakan tegas terhadap Rusia.

Melansir dari The Guardian, Minggu (28/6), sebuah berita dari New York Times mengatakan, Rusia telah melakukan eskalasi yang signifikan untuk merusak AS dan sekutunya. Upaya tersebut dilakukan oleh Rusia saat Presiden AS, Donald Trump sedang mengusahakan kesepakatan damai dengan Taliban.

Menurut berita tersebut, sebuah badan intelijen Rusia, Unit 29155 GRU betindak sebagai pelaksana dari rencana Rusia. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, badan ini juga diduga berkaitan dengan percobaan kudeta di Montenegro, keracunan pabrik senjata, dan subversi Bulgaria di Moldova.

Kepala Komite Luar Negeri Inggris, Tom Tugendhat mengatakan, upaya yang dilakukan oleh Rusia untuk merusak NATO di Afghanistan bukanlah hal yang baru. “Kami sudah pernah menemui upaya seperti itu dari Rusia, tapi dugaan kali ini yang menargetkan pasukan AS dan Inggris adalah suatu hal yang berbeda. Tindakan seperti itu sudah mengarah pada tindakan yang dapat memicu perang,” ujarnya.

Menanggapi berita yang menggemparkan itu, Rusia menyatakan, pihaknya tidak melakukan hal seperti itu. Rusia juga menuduh New York Times telah menyebarkan berita palsu dan dapat mengakibatkan nyawa karyawan di kedutaannya dalam bahaya. Seiring dengan pernyataan Rusia, pihak Taliban juga menyatakan, dirinya tidak berkaitan dengan Rusia dalam hal ini.

Meski begitu, Pakar Intelijen Rusia, Yuri Felshtinsky mengatakan, pendekatan mengenai GRU adalah pendekatan yang logis. “Ini hanya kelanjutan operasi militer dengan alat yang berbeda dan uang adalah alat yang sangat tepat untuk digunakan. Dengan membayar seseorang untuk membunuh warga AS, itu jauh lebih mudah dan lebih murah daripada melakukannya sendiri,” kata Felshtinsky.

Sebelumnya, Trump telah mengusahakan perjanjian damai dengan Taliban untuk mengakhiri perang di Afghanistan. Tapi Trump terkesan menghindari Presiden Rusia, Vladimir Putin dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kalangan diplomatik.

“Trump membantu Putin sebanyak yang dia bisa dengan tidak merilis informasi tentang warga AS yang terbunuh oleh Taliban yang didukung keuangan dari Rusia,” katanya.

Mantan Duta Besar Inggris untuk Rusia, Sir Andrew Wood juga mendukung dugaan tersebut. Dia mengatakan, tuduhan itu sangat masuk akal. “Saya tidak berpikir hal semacam itu dilakukan hanya untuk tujuan propaganda. Tentu saja, Rusia akan menyangkal jika Vladimir Putin digambarkan telah menembak seseorang di kepala,” katanya.

Saat ini, muncul juga kecurigaan terhadap Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dan pendahulunya, Theresa May terlibat dalam perkara ini. Mereka diduga enggan menerbitkan laporan Komite Intelijen dan Keamanan mengenai Rusia pada Oktober lalu, karena takut mengecewakan Trump.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Della Cahaya