RSUD Nganjuk Diam-Diam Ubah Data Jenis Kelamin Bayi

Share this :

Nganjuk, koranmemo.com – Perkara bayi “tertukar” jenis kelamin di RSUD Nganjuk terus rupanya masih berlanjut. Meskipun telah melakukan islah atau perdamaian di meja hijau, tetapi ada fakta baru yang terungkap. Belakangan diketahui pihak RSUD secara diam-diam berniat mengubah data kelamin bayi tersebut dengan mendatangi Dispendukcapil setempat.

Hal itu terungkap ketika wartawan melakukan wawancara terhadap Kepala Dinas Dukcapil Nganjuk Zabanudin, di kantornya Kamis (24/9) lalu. Awalnya, Zabanudin menjelaskan tentang dokumen akta kelahiran si bayi dan kartu keluarga (KK), yang sudah terlanjur dicetak dengan jenis kelamin perempuan, dengan nama Ayra Shirly Alnaira. Disebutkan, pencetakan akta kelahiran berdasarkan permohonan Feri Sujarwo, ayah bayi, yang membawa surat keterangan lahir dari RSUD Nganjuk.

“Dinas catatan sipil memiliki tugas pokok antara lain mencetak, merekam, dan mencatat data kependudukan. Kaitannya dengan pencatatan akta kelahiran, salah satu persyaratan yang paling penting adalah surat keterangan lahir dari bidan atau dokter yang membantu persalinan. Di sini data pada akta kelahiran harus sama persis dengan data pada dokumen kelahiran tersebut,” kata Zabanudin.

Belakangan diketahui, setelah bayi meninggal dunia pada 29 Agustus 2020, pihak RSUD Nganjuk memulangkan jenazah berjenis kelamin laki-laki, bukan perempuan. Hal ini berujung gugatan dari pihak orangtua di pengadilan. Namun, Zabanudin enggan menanggapi apakah hal itu tergolong mal administrasi atau bukan, karena sudah masuk ranah hukum.

“Catatan sipil tidak punya kewenangan untuk melakukan judex facti, dalam arti mengecek antara kebenaran data dengan fakta di lapangan,” urainya.

Baca Juga: RSUD Nganjuk Akui Salah Beri Gelang

Lebih lanjut, Zabanudin mengatakan, sampai saat ini akta kelahiran si bayi maupun KK belum diperbarui. Menurutnya, permohonan pembaruan data harus dilakukan oleh orangtua bayi itu sendiri. Tidak bisa dari pihak lain, termasuk oleh pihak RSUD Nganjuk tanpa sepengetahuan orangtua.

Ketika ditanya apakah pihak RSUD Nganjuk pernah mengajukan perubahan data si bayi, Zabanudin membenarkannya.

“Pernah, pernah. Pernah. Ya itu Ibu Wadir (RSUD Nganjuk) yang ke sini (Kantor Dukcapil Nganjuk). Tapi setelah itu saya jelaskan, bahwasannya perubahan itu tidak serta-merta dibuat oleh rumah sakit. Tapi harus dimohonkan oleh orangtua si bayi yang bersangkutan. Sebab itu sudah tercatat, permohonan awal dari orangtua. Maka apabila ada perubahan status, jenis kelamin, atau elemen-elemen lain, yang harus mengajukan perubahan adalah orangtua yang bersangkutan. Atau, orang yang mendapat kuasa dari orangtua yang bersangkutan,” ujar Zabanudin.

Baca Juga: Awak Media Diusir RSUD Nganjuk Ketika Meliput

Menanggapi informasi tersebut, Prayogo Laksono, kuasa hukum orangtua bayi, mengaku tidak tahu-menahu perihal inisiatif RSUD Nganjuk yang ingin mengubah data dokumen bayi di Kantor Dukcapil Nganjuk.

“Kami sebagai kuasa hukum Fery (ayah bayi) tidak mengetahui. Yang jelas, setelah proses persidangan gugatan selesai nanti, dan keluar akta perdamaian, memang kami akan mengurusnya ke Kantor Dukcapil Nganjuk,” ujar Prayogo ditemui di kantornya, Jumat (25/9) siang.

Baca Juga: Kasus Dugaan Pengusiran Wartawan, Penyidik Hadirkan Pihak RSUD Nganjuk

Saat ini pihaknya telah menerima surat keterangan kematian bayi dari RSUD Nganjuk, di mana dalam surat tersebut tertulis jenis kelamin bayi laki-laki. Prayogo menyadari, permasalahan perbedaan data jenis kelamin bayi antara dokumen catatan sipil dan surat kematian RSUD Nganjuk tersebut bisa menimbulkan polemik. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Dukcapil Nganjuk, termasuk membahas apakah perlu mengganti nama bayi menjadi nama laki-laki.

Reporter: Inna Dewi Fatimah/Andik Sukaca

Editor: Della Cahaya