Ribuan Perantau Padati Pelabuhan Ketapang

Share this :

Banyuwangi, koranmemo.com – Ribuan perantau yang berasal dari Pulau Jawa padati Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Selasa (19/5), mereka baru saja tiba dari pelabuhan Gilimanuk Bali, setelah memutuskan untuk pulang, karena kehilangan pekerjaan di tempat perantauan.

Berdasarkan data dari PT ASDP Indonesia Ferry, sebanyak 4.176 penumpang dan 2.066 kendaraan diberangkatkan dari pelabuhan Gilimanuk menuju Banyuwangi. Sedangkan untuk warga yang menuju Bali dari Pelabuhan Ketapang, data ini menunjukan ada sekitar 2.291 penumpang dan 1.971 kendaraan yang menuju ke sana.

Mereka yang kembali ke pulau Jawa, sebagian besar sebelumnya bekerja di NTB, NTT, Bali, dan beberapa wilayah di Indonesia bagian timur. Mereka memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, yang mayoritas berasal dari Jawa Timur karena kehilangan pekerjaannya akibat virus corona.

Salah satu perantau yang tiba di pelabuhan Ketapang, Sigit mengatakan, dirinya sudah tidak memiliki pilihan selain kembali ke kampung halaman. “Saya mau pergi ke Nganjuk, soalnya sudah tidak ada pekerjaan di Bali,” ujar Sigit dikutip dari CNN Indonesia.

Peningkatan jumlah warga yang kembali ke kampung halaman meningkat setelah pemerintah melonggarkan kebijakan pencegahan pandemi corona. Pemerintah telah mengizinkan adanya perpindahan warga dengan tujuan tertentu yang disertai dengan sejumlah syarat yang telah ditentukan.

Sejak diterbitkannya aturan ini, warga telah memadati bandara dan pelabuhan untuk memanfaatkannya. Seperti halnya yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta yang sempat kewalahan dalam mengatur penumpang untuk tetap mematuhi aturan pencegahan dari penularan virus corona.

Pada hari Senin (18/5), Pelabuhan Merak di Banten, juga mencatat ada 861 orang yang menyebrang dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Ratusan penumpang tersebut akhirnya ditampung lebih dulu di Terminal Terpadu Merak, untuk memastikan kesehatan dari ratusan penumpang tersebut.

Sebenarnya, Pemerintah Indonesia sampai saat ini masih belum mencabut aturan mengenai larangan mudik yang telah berlaku sejak 24 April dan baru berakhir pada akhir bulan ini. Peraturan Menteri Perhubungan nomor 25 tahun 2020 juga telah mengatur transportasi untuk mencegah penularan virus corona.

Berdasarkan aturan tersebut, kendaraan yang diperkenankan untuk melakukan perjalanan antar wilayah adalah kendaraan yang memiliki tujuan yang penting. Penjabaran mengenai tujuan itu sendiri seperti, kendaraan yang dipergunakan untuk mengangkut sembako, tugas kenegaraan, dan kendaraan yang bertugas untuk menangani virus corona.

Reporter: Ahmad Bayu Giandika

Editor: Achmad Saichu