Ratusan Herktar Tanaman Padi Diserang Hama Burung 

Share this :

Tulungagung, koranmemo.com -Sejumlah petani di Desa Sukowiyono Kecamatan Karangrejo mengeluhkan serangan hama burung atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang secara sporadis menyerang tanaman padi berusia 60 hari. Hal ini akan berdampak pada penurunan hasil panen.

Seperti pantauan  koranmemo.com.. Para petani yang berada di desa tersebut lebih memilih memasang berbagai jaring guna menutupi tanaman padi yang sudah mulai mengeluarkan bulir padi, hal itu guna menghindari serangan burung pipit. “Sebagiana besar petani memasang jaring yang membentang di area sawah, guna meminimalisir serangan burung pipit,” ungkap Roni salah satu petani padi tinggal di Desa Sukowiyono.

Menurutnya, kendati para petani sudah memasang jaring, dan beberapa orang — orangan sawah. Namun, serangan burung masih tetap terjadi. Beberapa burung berhasil masuk melalui lubang jaring yang dipasang oleh petani. Ketika petani mengeluarkan suara dari kentongan maupun terompet, membuat burung pipit pergi terbang dan berpindah ke lahan sawah petani lainnya. Hal yang sama dilakukan oleh petani lainnya, sehingga serangan burungpun kembali terjadi. “Ya selain memasang jaring, petani juga tetap menjaga sawah. Sebab, serangan burung masih tetap terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, Martam petani lainnya juga mengeluhkan selain adanya serangan burung pipit. Serangan hama tikus juga sering ditemukan oleh petani, dengan adanya beberapa potongan tanaman padi seperti gigitan tikus. “Selain burung, hama tikus juga ikut menyerang meskipun itu tidak begitu banyak,” katanya.

Martam maupun Roni menuturkan, dengan adanya serangan hama organisme pengganggu tanaman ini dipastikan akan mengurangi hasil panen padi kedepan. Mereka memaparkan untuk setiap tanah dengan luas 100 meter persegi dengan kondisi tanaman padi normal atau tidak ada serangan hama dapat menghasilkan sekitar 1 ton gabah. Namun, dengan adanya serangan hama dipastikan hasil panen akan menyusut dengan estimasi 6 hingga 8 kwintal. “Dengan serangan hama ini dipastikan hasil panen akan turun,” katanya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Suprapti melalui Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Gatot Rahayu membenarkan adanya gangguan sejumlah OPT khususnya burung pipit terhadap tanaman padi milik petani di Tulungagung.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yang pertama yakni terkait ekosistem yang sudah punah, seperti halnya saat ini tidak pernah ditemukannya burung elang maupun burung gagak yang biasa memakan burung pipit. Dengan demikian perkembangbiakan burung pipit semakin cepat dan menyerang tanaman padi petani.

“Hal itu seperti serangan tikus, biasanya tikus dimakan oleh ular. Dan kini sangat jarang sekali ditemukan binatang ular di area persawahan karena ular sering diburu oleh manusia,” ujarnya.

Lebih lanjut Gatot menuturkan, faktor yang kedua yakni perubahan iklim yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman, mengakibatkan pola tanam petani banyak yang berubah. Seperti halnya pola tanam yang tidak bersamaan, dan itu sebagai pemicu adanya serangan hama burung.

“Dalam satu hamparan sawah ada perbedaan usia tanam, sehingga serangan hama akan terjadi pada satu titik. Minimal dalam satu hamparan tanamannya serempak, semisal selisih waktu tanam seminggu atau maksimal sepuluh hari. Itu akan mengurangi kepadatan serangan hama tersebut,” katanya.

Gatot menambahkan, upaya lainnya yakni dengan memasang jaring, untuk meminimalisir serangan hama agar tidak dapat langsung menjangkau atau menyerang bulir padi. Selain itu, juga pemilihan varietas padi juga perlu diperhatikan. Pihaknya juga sudah memberikan himbuan kepada petani, untuk menyetarakan pola tanam agar bersamaan, guna meminimalisir serangan hama burung pipit.

Reporter: Denny Trisdianto

Editor: Achmad Saichu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.