Puasa Sehat Bagi Penderita Diabetes

Model : Virgy Ayu Kandita  (yudha-memo)
Model : Virgy Ayu Kandita (yudha-memo)

Kediri, Memo-Bulan puasa adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan, termasuk juga oleh penderita diabetes. Namun, tidak jarang terbersit keraguan apakah orang dengan diabetes bisa berpuasa.

Penyakit kencing manis atau diabetes adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah secara terus menerus (kronis) akibat kekurangan insulin baik kuantitatif maupun kualitatif.Pada mereka yang menderita penyakit kencing manis (diabetes), penyebabnya bisa diakibatkan produksi insulin yang kurang (kuantitas) maupun produksinya cukup tetapi kualitasnya yang berkurang. Jika hal ini dialami penderita, maka badan menjadi lemas karena tidak bisa memperoleh energi, tapi kadar gula darahnya meningkat. Tubuh tidak bisa menggunakan glukosa yang ada dalam darah untuk diubah menjadi energi yang dibutuhkan.

Seperti diketahui, penderita diabetes sendiri terbagi dalam empat golongan risiko, pertama golongan resiko paling tinggi. Yang masuk dalam kategori penderita diabetes melitius tipe 1 adalah wanita yang sedang hamil, orang yang sedang dalam kondisi menjalani cuci darah, penderita gula darah sering turun mendadak (drop),dan mengalami ketoasidosis berulang. Ketoasidosis adalah salah satu komplikasi akut pasien DM yang terjadi karena kadar glukosa dalam darah sangat tinggi. Kedua, penderita diabetes resiko tinggi. Disini terdapat orang yang mengalami gangguan ginjal dan tinggal sendiri sementara pemakai insulin atau sulfonilurea, dan  orangtua yang sakit-sakitan. Ketiga, penderita diabetes resiko sedang. Ini untuk pasien DM terkontrol pemakai sulfonilurea atau glinid. Sedangkan keempat yaitu penderita diabetes resiko ringan. Disini tempat para diabetesi yang terkontrol dengan diet saja atau mengonsumsi metformin.

Sebagian orang yang menderita diabetes yang biasa disebut dengan diabetesi yang beragama muslim banyak yang tetap ingin menjalankan ibadah puasa. Meskipun kondisi para diabetesi sudah berbeda dengan orang yang masih dalam kondisi normal. Para diabetesi tetap bisa menjalankan ibadah, namun dengan persiapan dan kedisplinan dalam memonitoring kadar gula darah secara berkala harus menjadi kewajiban utama yang perlu dipahami penderita diabetes berpuasa.

Retno Larasati S.Gz, ahli gizi RSUD Gambiran Kota Kediri mengatakan jika untuk para penyandang diabetes melitus boleh menjalankan puasa, namun harus memerhatikan beberapa faktor. “Diabetesi jika akan berpuasa harus atas dasar saran dokter dulu, dan tetap menerapkan 3 J yakni tepat jadwal, tepat jenis, tepat jumlah,” terang Retno.

Masih kata Retno, diabetesi harus menghindari bahan makanan dengan index glikemik yang tinggi. Dan yang juga tidak kalah penting, diabetesi memperbanyak konsumsi serat terutama serat larut air untuk menurunkan absorbsi glukosa bagi para diabetesi.

Saat menjalankan puasa, pasien DM mesti mewaspadai adanya hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah, juga hiperglikemia atau gula darah terlalu tinggi. Selain itu, mereka juga hati-hati jika terjadi ketoasidosis atau darah menjadi asam.Yang perlu diperhatikan juga adalah jangan sampai diabetesi mengalami dehidrasi dan timbulnya bekuan di pembuluh darah.

Lalu bagaimana pengaturan makan para diabetesi? Saat sahur dan berbuka usahakan makan makanan yang sehat dan berimbang. Selain itu dianjurkan diabetesi menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur, minum cukup minimal delapan gelas setiap hari,dan pilihan kalori mesti dibagi-bagi,yaitu 50 persen saat berbuka, 10 persen setelah tarawih, dan 40% saat sahur.

Dalam memilih bahan makanan yang mengandung karbohidrat, pilih karbohidrat kompleks yang butuh pembakaran lama saat sahur, yaitu sekitar delapan jam. Jangan lupa kurangi hidangan berlemak dan perbanyak serat. Konsumsi obat tetap berlaku seperti biasa, namun waktunya disesuaikan, yaitu saat sahur, berbuka, atau sebelum tidur.

Selain pengaturan makanan, penderita DM diharapkan bisa tetap menjaga kondisi tubuhnya dengan melakukan aktivitas fisik. Diabetesi tetap boleh berolahraga dengan intensitas yang ringan, teratur, dan aman. Harap dicatat, olahraga atau latihan fisik yang terlampau berat dan menyedot energi besar, jadi sebaiknya dihindari. Cukup lakukan olahraga ringan menjelang berbuka. Salat tarawih sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk olahraga.

Saat bulan penuh berkah ini, disarankan para penyandang DM untuk lebih rutin memeriksa gula darahnya. Cek gula darah dapat dilakukan saat sebelum sahur, dua jam sesudah sahur, sebelum berbuka puasa, dan dua jam sesudah buka. Tetap lakukan pemeriksa gula darah, karena itu tidak membatalkan puasa.

Diabetesi mesti membatalkan puasa saat gula darah turun menjadi 60 mg/dl atau kurang. Juga, gula darah turun di sekitar 70 mg/dl pada jam-jam awal,terutama pemakai insulin, sulfonilurea atau glinid yang dipakai saat sahur. Waspada jika gula darah naik lebih dari 300 mg/dl. Konseling pra-Ramadan sekitar dua sampai empat bulan sebelumnya bagi pasien DM amat diperlukan. Ini berguna untuk mengkaji kontrol metabolik, stratifikasi risiko, penyesuaian terapi untuk puasa, perawatan diri (self care), dan edukasi secara umum.

Persiapan puasa bagi para diabetesi sangat penting. Saat berpuasa, umumnya penyandang DM mengalami penurunan kadar gula darah. Mengingat pasien DM kekurangan hormon insulin, maka hormon yang kontrainsulin akan memicu tubuh kembali menaikkan gula darah. Akibatnya, timbul efek asam pada darah. Inilah alasan kenapa puasa pada pasien DM perlu diatur dan disiapkan secara matang. (gung/dari berbagai sumber).

Follow Untuk Berita Up to Date