Proyek Bendungan Semantok Molor, Warga Khawatirkan Tanah Pengganti 

Nganjuk, koranmemo.com – Pengerjaan megaproyek Bendungan Semantok di Kabupaten Nganjuk kembali molor untuk kesekian kalinya. Hal itu membuat masyarakat setempat, khususnya daerah Rejoso resah. Mereka mengkhawatirkan perihal penggantian lahan yang hingga kini belum ada kejelasan.

Kepala Desa Sambikerep, Agus Juhandoko menjelaskan, kendala yang dialami selama ini yakni faktor mengenai kapan dilakukan relokasi. Sehingga, ada rasa khawatir dari masyarakat sekitar lokasi pembangunan proyek perihal kepengurusan sertifikat tanah perhutani. Hal itu mengingat adanya kelambatan selama proses tukar guling dari Perhutani ke warga Sambikerep.”Perencanaan pembangunan proyek Bendungan Semantok ini sudah sejak 2014, tapi hingga kini warga belum mendapat kejelasan mengenai hitung-hitungan ganti rugi atau ganti untung. Padahal kantor-kantor maupun alat berat sudah diturunkan di lokasi, sehingga muncullan kegamangan dari warga setempat,” jelasnya.

Sementara itu, dalam sosialisasi pembangunan Bendungan Semantok Kabupaten Nganjuk, Kamis (12/7) yang dihadiri Forpimda Nganjuk, pimpinan PT. Hutama Karya, PT. Brantas Abi Praya, Forpimcam Rejoso, dan masyarakat terdampak, disampaikan jika keberadaan bendungan raksasa ini diharap mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Tujuan pembangunan bertaraf nasional ini yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, khususnya bagi para petani. Karena diharapkan bendungan ini dapat mengairi sawah pada musim tanam, serta Semantok dapat mereduksi banjir yang selama ini meresahkan setiap tahun.

Kepala Balai Besar Jawa Timur, Fauzi Idris menyampaikan, masyarakat sekitar harus bangga karena pembangunan mega proyek ini dipilih di daerah sekitarnya. Mengingat tidak mudah untuk merealisasi proyek ini, lantaran membutuhkan waktu dan menyita pikiran cukup panjang.

“Jangan mudah percaya dengan hoax. Apabila terjadi permasalahan diharapkan mencari solusi yang terbaik. Sementara ini proses pembangunan Semantok akan segera dilakukan pada Agustus 2018,” jelasnya kepada seluruh masyarakat peserta sosialisasi.

Di satu sisi, pemerintah masih terus mengupayakan untuk menyelesaikan tanah pengganti agar warga segera bisa direlokasi. Menurutnya, proses pengerjaan Bendungan Semantok harus layak secara ekonomi, taktis, dan layak sosial.

“Layak sosial ini artinya masyarakat mendukung sepenuhnya dan siap direlokasi ke lahan perhutani sekitar 40 hektare di sekitar Bengungan Semantok,” paparnya.

Iapun berharap masyarakat sekitar bendungan untuk ke depan bisa makmur. Selain itu, pembangunan ini diharapkan dapat menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Nganjuk.

Adapun rincian pembangunan, luas bendungan 412 Ha, tanah perhutani 372 Ha, tanah warga 40 Ha, relokasi warga sebanyak 180 KK 543 jiwa, rencana relokasi di Dusun Dungpingit Desa Sambikerep Kecamatan Rejoso, dan rencananya akan dimulai proyek tersebut pada Agustus 2018.

Reporter: Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date